Crossing the Rubicon

Rubicon adalah sebuah sungai dengan panjang 29 kilometer yang terletak pada daerah utara Italia. Sungai ini mengalir dari Pegunungan Apennine menuju ke Laut Adriatik melalui daerah Emilia-Romagna Selatan di antara kota Remini dan Casena. Menyeberangi Rubicon "Crossing the Rubicon" berarti melewati sebuah posisi di mana kau tidak bisa kembali lagi. Idiom ini menggambarkan tindakan Julius Caesar pada 49 SM menyeberangi sungai tersebut, yang dianggap sebagai pernyataan perang.

Setiap orang pasti pernah menyeberangi Rubicon ini. Kita sering dihadapkan pada kesempatan sekali dalam seumur hidup. Kesempatan yang tidak akan datang lagi jika kita tidak mengambilnya saat itu. Akan tetapi, terkadang kita menghadapi kendala di mana untuk mengambil kesempatan ini, kita harus mengorbankan sesuatu. Saat itulah keputusan kita akan menjadi sebuah takdir yang tak terbantahkan.

Saat kita mengambil keputusan, kita harus tahu bahwa takkan pernah menemui kesempatan untuk memperoleh hal yang kita korbankan tersebut. Kita tak boleh menyesal saat kita sudah menyeberangi Rubicon tersebut. Kita takkan bisa kembali lagi. Karena itulah, yang bisa kita lakukan adalah menghadapi jalan yang ada di depan kita dengan sebaik mungkin. Selalu ada cara untuk menyelesaikan segala masalah yang kau hadapi saat kau mengambil keputusan itu. Misalnya, betapa Sri Mulyani mungkin tidak akan menjadi wanita dengan pengaruh terbesar di Indonesia jika dia tidak meneruskan kuliah ilmu ekonomi yang sebenarnya bukan jurusan yang diinginkannya.

There is no turning back. All you have to do is to face the road in front of you with all you've got. Regretting won't bring you anywhere. You can't turn back time. So don't you ever wish to turn back time.
Never look away! Not from the nightmare, nor from the truth.

Smile eternally,
Wirapati...

Ketika Memilih Bukanlah Sebuah Pilihan

Kamis, 9 April 2009. Pesta Demokrasi...

Hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan. Mungkin ini hari yang paling aku nantikan selama 10 tahun terakhir. Tanggal 8 April ini adalah Pemilihan Umum (Pemilu) pertama bagiku. Tentunya untuk beberapa teman-teman yang juga baru saja menginjak umur 17 tahun ke atas merasakan hal yang kurang lebih sama walaupun ada juga perasaan ingin golput.

Untuk itulah, setelah semalaman bekerja untuk KANOPI (organisasi mahasiswa jurusanku di Ilmu Ekonomi FEUI), aku langsung pulang pagi-pagi agar sempat untuk mencontreng karena kabarnya TPS ditutup jam 12 siang. Aku menyempatkan diri untuk mencontreng padahal masih agak mengantuk setelah semalam bekerja. Hal ini semata-mata karena ini adalah Pemilu pertamaku dan aku memang bertekad untuk menyuarakan aspirasiku pada Pemilu ini dan setiap Pemilu yang akan aku lalui nantinya.

Sesampainya di rumah, aku langsung bersiap mencontreng. Sebelum pergi, aku bertanya pada orang rumah tentang kartu pemilihku. Ternyata, dari 6 orang yang potensial untuk memilih di rumahku, hanya ibuku yang memperoleh kartu pemilih. Hal ini memang sudah menjadi isu yang cukup hangat selama beberapa hari menuju Pemilu 2009 ini. Pihak KPU telah menyatakan bahwa pemilih bisa memilih dengan menunjukkan KTP ke TPS di RT masing-masing.

Percaya dengan penyataan KPU, aku pergi ke TPS untuk mengeksekusi Pemilu pertamaku. Sesampainya di TPS, aku langsung menunjukkan KTPku pada pihak panitia dan ternyata namaku terdaftar. Saat itu TPS mulai kosong karena sudah jam 11 lewat, sehingga aku menyelesaikan Pemilu pertamaku dengan cepat. Saat aku pulang, aku melihat sekumpulan bapak-bapak dan beberapa ibu-ibu yang tampak tengah berdiskusi di dekat TPS. Tanpa sengaja aku mencuri dengar pembicaraan mereka. Ternyata mereka sedang berdiskusi mengenai Pemilu hari ini.

Dalam diskusi tersebut, aku mendengar bahwa terdapat beberapa orang di antara mereka yang namanya tidak terdaftar di TPS, padahal mereka memiliki KTP setempat dan sudah lama tinggal di daerah tersebut. Mereka mengeluh karena mereka sudah jauh-jauh berjalan ke TPS dan menemukan mereka tidak berhak untuk memilih. Hasilnya, mereka harus mencontreng partai Golongan Putih. Ternyata, hal ini tidak hanya terjadi di daerahku saja. Seorang temanku juga mengalaminya, di mana ayahnya sendiri juga tidak terdaftar dan harus melewati proses yang cukup lama untuk bisa memilih. Fenomena ini terjadi di banyak sekali TPS di Indonesia.

Aku adalah seorang yang idealis, yang percaya bahwa golput bukanlah pilihan bagiku. Saat banyak pihak di televisi dan koran menghimbau kepada masyarakat untuk tidak golput, aku sangat menyetujuinya. Terutama saat KPU mengatakan bahwa seorang pemilih yang cerdas tidak akan golput, aku juga dengan semangat menyetujuinya. Tapi, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika "Memilih bukanlah sebuah pilihan"?

Dengan segala himbauan yang diberikan KPU untuk tidak golput, KPU terbukti tidak menciptakan sistem yang baik untuk para pemilih. Dalam Pemilu kali ini, banyak pemilih yang tidak diberikan pilihan lain selain golput. Hal ini dikarenakan mereka tidak terdaftar, sehingga banyak di antara mereka yang tidak bisa memilih karenanya. KPU sering mengatakan bahwa memilih adalah hak dari masing-masing warga negara dan sebaiknya warga negara menggunakan hak pilihnya dengan bijaksana. Akan tetapi, KPU tidak memberikan hak pilih kepada orang-orang yang sangat dihimbaunya untuk memilih. Di Jombang, malah bayi berumur 5 tahun yang terdaftar sebagai pemilih sementara di tempat lain banyak pihak yang sebenarnya berhak memilih tidak memperoleh haknya.

Ada baiknya bagi KPU untuk memperbaiki sistem yang dimilikinya terlebih dahulu sebelum menghimbau semua orang untuk menggunakan hak pilihnya. Karena, walaupun semua orang sudah membudayakan dirinya untuk memilih, jika tidak ada fasilitas yang mengakomodir budaya tersebut, maka tetap saja budaya itu tidak akan berkembang. Memberikan himbauan secara besar-besaran tanpa ada perbaikan sistem, tidak akan memperbaiki apapun. Malah, dengan sistem yang ada sekarang, orang yang seharusnya ingin memilih jadi tidak memilih. Akibatnya akan lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

Untuk bisa menciptakan pemilih yang berpendidikan, harus diciptakan dulu sistem yang terdidik juga. Sebuah sistem yang mampu mengakomodir segala hak para pemilih adalah harga mati bagi KPU untuk bisa menjalankan Pemilu yang berkualitas. Dengan sistem yang baik, bukan hanya pemilih yang berniat memilih dapat memperoleh haknya, tetapi pemilih yang memilih untuk golput dapat mengubah sikapnya dan memutuskan untuk memilih. Sistem yang baik di mana para pemilih dapat mengetahui dengan baik siapa yang akan dipilihnya juga merupakan sebuah keperluan. Karena, selain dapat membuat pemilih golput untuk menggunakan haknya, hal ini juga dapat mengurangi kemungkinan para pemilih untuk salah memilih calon pemimpin negeri ini.

Memilih adalah hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Untuk itu, pemilih juga berhak untuk memperoleh fasilitas untuk memperoleh haknya. Sebelum KPU berusaha memperbaiki para pemilih, ada baiknya KPU memperbaiki dirinya dulu atau sistem yang dibawanya. Warga Negara Indonesia berhak untuk memperoleh haknya.

Smile Eternally,
Wirapati..

Sebuah Forum dan Budaya Berkomunikasi

Apakah di antara kalian ada yang belum pernah mengenal komunitas yang bernama KASKUS? Aku rasa sedikit sekali dari kalian yang asing dengan forum yang sangat ternama ini. Website yang beralamat http://www.kaskus.com/ ini pertama kali mengudara di World Wide Web semenjak 6 November 2000. Hingga saat ini, Kaskus dianggap menjadi website komunitas nomor satu di Indonesia.


Mengapa komunitas ini menjadi sangat digemari? Alasan utamanya adalah kemampuan KASKUS untuk mengakomodir hampir semua kebutuhan, keinginan dan minat dari para surfer internet. Komunitas ini menyediakan forum yang membahas segala macam hal, mulai dari topik-topik politik yang paling serius hingga topik-topik fun yang sangat ringan untuk dibaca. Komunitas ini juga menyediakan Forum Jual Beli (FJB) yang memungkinkan pengguna internet untuk berjual beli mulai dari barang yang bernilai puluhan ribu hingga tanah yang berharga ratusan juta. Dengan kemampuannya untuk mengakomodir hampir semua kepentingan ini, jelas KASKUS menjadi komunitas nomor satu di Indonesia yang paling diminati.

Aku bukanlah seorang KASKUSer sejati. Aku hanya terkadang membuka KASKUS untuk melihat-lihat, tapi aku tidak pernah menjadi anggota KASKUS dan secara langsung terlibat dalam forumnya. Tapi, sebagai pengguna internet, aku tetap merasakan pengaruh yang diberikan KASKUS kepada para pengguna internet.

Hal utama yang dipengaruhi oleh KASKUS adalah budaya berkomunikasi para pengguna internet. Bahasa-bahasa yang digunakan para KASKUSer dalam forumnya memang sangat unik. Penggunaan sebutan "gan" yang merupakan singkatan dari "Juragan" digunakan untuk menyebut KASKUSer lainnya. Selain itu, para KASKUSer akan menyerukan kata "Pertamax" jika mereka adalah pihak yang pertama kali me-reply sebuah thread. Dan masih banyak istilah lain yang digunakan para KASKUSer dalam forum tersebut.

Lantas seperti apa pengaruhnya?

Jika kalian sering menggunakan website-website di mana user lain dapat memberikan reply terhadap sebuah thread, kalian pasti sering menemukan beberapa user lain menggunakan bahasa yang serupa dengan para KASKUSer. Pada website seperti Facebook di mana para user dapat memberikan komentar terhadap hampir semua aktivitas user, penggunaan bahasa ini kerap kali ditemui dalam beberapa komentar, terutama pada aplikasi notes. Hal ini dapat juga dapat ditemui pada website-website yang menyediakan streaming lagu seperti 4shared. Bahasa KASKUS telah merambah sampai ke website-website lainnya.

Lebih hebatnya lagi, KASKUS tidak hanya mempengaruhi budaya berkomunikasi orang-orang di dunia maya saja, tetapi juga pada dunia nyata. Para KASKUSer di dunia nyata juga membawa kebiasaannya dalam berbicara di dalam percakapan. Bahkan, budaya ini tertular kepada orang-orang lain yang aslinya bukan KASKUSer. Aku juga salah satu korbannya. Walaupun aku bukan KASKUSer, aku terkadang menggunakan bahasa-bahasa KASKUS. Jadi, dampak dari budaya penggunaan bahasa ini tidak tertutup pada KASKUSer saja, tapi juga merambah ke semua pihak yang mungkin perbah berhubungan atau berkomunikasi dengan para KASKUSer.

Betapa besarnya pengaruh sebuah website di era globalisasi ini. KASKUS hanyalah satu dari beberapa contoh aplikasi dunia maya yang bisa mempengaruhi hidup seseorang. Jika Google mampu mengubah pola pikir masyarakat dunia dalam mencari sebuah data, KASKUS juga dapat mengubah kebiasaan seseorang dalam berbicara. Internet telah mengubah hidup manusia di dunia ini. Ada baiknya untuk kita dapat memilih mana pengaruh yang baik bagi kita dan mana pengaruh yang tidak baik bagi kita (dalam hal ini KASKUS tidak memberikan pengaruh yang buruk, tetapi pantas untuk dijadikan contoh betapa internet mampu mempengaruhi hidup seseorang).

Jangan biarkan globalisasi mengubah pola pikir kita dan membuat kita meninggalkan nilai-nilai sosial dan budaya yang sebenarnya. Jangan biarkan globalisasi mengubah kita, tapi buatlah globalisasi bekerja untuk kita. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan diri tanpa meninggalkan budaya kita.

Smile Eternally,
Wirapati..

The Return of The Dreamer!

Hai, lama tak berjumpa. Akhirnya saya kembali dalam blog ini. Alasan menghilangnya saya dari blog ini selama beberapa saat adalah kesibukan saya dalam kepantiaan saya selama beberapa bulan lalu. Saya menjadi Project Officer 6th Economix sehingga agak sulit untuk bisa tetap menulis di tengah2 kesibukan saya itu. Sekarang setelah kegiatan itu selesai, saya akan mulai menulis lagi.

Pada kesempatan ini pula, saya perkenalkan URL baru dari blog saya ini, yaitu:

http://bawirapati.blogspot.com

Perubahan ini diharapkan dapat mempermudah pembaca untuk mengindentifikasi blog ini dan lebih mudah diingat dibandingkan URL sebelumnya.

Semoga kalian bisa menikmati kembali blog saya ini!

Smile eternally,
Wirapati..

Puchasing Power Parity in 'Apologizing'

Originally my notes in Facebook with the same title....

I guess everybody knows how to apologize. I guess everybody realizes that they have mistakes with someone. And lastly, I guess everybody really understands that when you have mistakes with someone, you need to apologize.

But why did it is really hard to apologize?

The word apologize or sorry are indeed the most expensive words in this world. Why? Cuz, everybody tries to protect their dignity. They feel that saying such a word as sorry would harm their dignity, that it means they are wrong and they are not that cheap to say something like sorry.

Well, it is not true, I guess. Since the easier you say sorry, the higher you are than others.

I'd like to use purchasing power parity theorem for this case. Purchasing power parity is a theorem which determines exchange rate of a currency by calculating its purchasing power on spesific good. For instance, we use BigMac (just like people do to explain PPP) to determine rupiah against dollar. In USA, one BigMac is (let's say) 3 Dollar and in Indonesia, BigMac is 30.000 Rupiah. It means that, 3 Dollar is 30.000 rupiah or the exchange rate of Rupiah against Dollar is 10.000Rp/$. Dollar is stronger than Rupiah.

Now, why don't we try to apply this on the goods of apologizing such as sorry or apologize. Roy, with his dignity, can easily say sorry for his mistakes. While, Yor, also with his dignity, rarely apologize for his mistakes. It means that with Roy's dignity, he can buy more apologizing words while Yor can only buy few. Roy's dignity is stronger than Yor's in terms of Purchasing Power Parity. Then, we can conclude that Roy's dignity is higher since he can say apologize easily.

See, apologizing doesn't harm your dignity, it values you dignity higher. Saying sorry is not harmful. It makes you a better man in front of any others since you have higher exchange rate of dignity.

So, why do you bother to apologize?

The Valuation of the Future

The government are again reducing the Premium type fuel price. After the oil shock at 2008, the government decided to increase the price to Rp6.000,- and now, due to the decreasing world oil price, it is reduced again to Rp5.500,-. Such a very good news for private vehicles owners. But, I think it is not a very wise desicion.

Once, when I was in the Prof. Emil Salim lecturing about Economics of Natural Resources and Environment, I learned about how we value the future generations with the actions and policies that we execute in the present time. The professor said that we have to value more about the future. That's why, when conducting a natural resources and environment related policies, we conducted high Discount Rate on the calculation as a symbol that preserving more is important (for future generation).

With the knowledge he shared to me, I began to think about this fuel prce decision. Can we said that this policy put a high value on the future? I think not. Cuz, in my opinion, this policy is only targetting on Short Term Benefit.

Let's see the cost of this policy. By reducing the fuel price, people began to consume more and slowly become comsumptive. What is the implications? Due to the increasing consumption of fuel, the first thing is an increasing volume of polution. The usage of fuel will exhaust air pollution with the form of Carbon Monoxide (CO). With this increasing usage, the volume of CO in the air will eventually increase.

The second implication is that there will be no incentives for inventing new resources of energy. People will think that oil is still the most economical fuel in Indonesia. Then, people will feel comfort witht he usage of oil fuel and stop thinking about alternative resources of energy. This has been proven fot about 60 years in Indonesia. Due to the subsidy of oil fuel since the New Order era, we haven't promote any invention of alternative energies like geothermal, wind, water, etc. We have to learn that oil is not that cheap. Oil is a non-renewable resources and its supply in this motherearth has begun to depleting slowly.

I once sent a message to Prof. Sri-Edi Swasono about this problem. The professor said that we shouldn't reduce the price of oil fuel, but we have to promote invention or allocated the subsidy to another sector. Yes, I agree! Now, imagine if the subsidy from oil fuel is allocated to the education sector. If that happened, the 20% bugdet of education development would have been achieved. Or maybe we can allocate it to health sector. We are still lack of health service in Indonesia, especially outside the Java island. We can allocate it to build new hospital or to promote the production of generic medicines.

Now, if the government planned to promote real sector, why don't we just allocate the subsidy of oil fuel to the production sector. We must not play a self-targetted subsidy for oil fuel since the fuel will eventually used for consumption (and the worse one is that these consumptions were done by rich, not poor people), not for production sector. The government must state that this subsidy is especially for producers not consumers. Therefore, the government can still promote real sector.

Those are the proofs that reducing oil fuel price is not a wise desicion especially for future generation. By reducing the price, the government have made people consumptive, creating a deeper danger of Oil Crisis, and then reducing the motivation of inventing new resources of energy for future generation.

I fear that this desicion were made for political actions. From what I've learnt from FEUI, politicians tend to conduct short term benefit based policy since the benefit can be felt in present time to promote their political conditions. Indonesia is going to face an election in the near future. Taking a such a policy will give the government a good credit from the people. Therefore, they can strengthen their political conditions.

We must not let this happens. We have to think for long term benefits. We have to value more about the future. Therefore, we must not easily reduce the price of oil fuel just because the world oil price began to reduce. We must be careful with or decisions about energy since energy is the blood of our life, especially in this era of electricity. We don't wat to return to Stone Age just because we don't have enough energy to use for daily activities. Therefore, VALUE MORE ABOUT THE FUTURE!

Smile eternally,
Wirapati

The Power of First Time

I watched the TV and caught a very incredible news that I've been waiting for long. The result of US Presidential Election. Even though it was not done actually, since not all electoral vote had been taken, but Obama had already won 297 votes (they only need 270 to win the election). And this has made Barack Obama, a 42-years old man, becomes the first 'black' president of the United States.

How incredible was it? He is the first 'black' president of US. That's phenomenal since US was once had a heavy discrimination over black people. And now, the black person is standing as the first person of US. The first time and now, he has wrote a history.

Now, I want to discuss about 'The First Time'. Don't you think that it was the most memorable moment in this world. The first time will always be remembered better than the second, the third, and so on. First time is a special moment.

You always memorized the moment where you are first able to do something, first arrive to someplace new for you and any first time moment for you. Why? Cuz, you don't want to miss the memories of the first time and you considered it as a special one.

Now, the first person to invent electricity, the first person to invent telephone, the first person to discover gravity, the first person to derive a mathematical equation of relativity, the first person to step on the moon, and every first person to do something in history. They are and always are someone who will be remembered by this world. Those are proofs that first time is a very special thing for humans.

So, do you want to be the first time? Why don't we try to implant a vision to ourselves to be the first person ever to do something special to this world, or our nation. Like, being the first Indonesian ever nominated as Nobel Laureate of Economics. Well, every little thing can be a historical moment. All we can do is grab that vision and do our best to achieve it. Walk in the path that you believe is right.

Are you dare enough to be the first one?

Smile eternally,
Wirapati

Bushido

Bushido! Tahukah kalian apakah arti kata tersebut? Artinya utamanya adalah "Way of the Warrior". Di dalam terkandung ratusan semangat samurai yang sangat menjunjung harga dirinya samapi ke liang kubur, hingga rela melakukan Harakiri hanya karena merasa harga dirinya telah dilukai. Salah satu dari sikap Bushido, adalah jiwa untuk pantang menyerah.

Gw diajarkan hal ini di dalam bela diri yang dulu pernah gw ikuti. Semenjak kelas 2 SD hingga 1 SMA, gw mendalami bela diri karate. Karate adalah bela diri Jepang yang mungkin paling general dalam hal full body contact. Karate dapat memukul, menendang, menggunakan tongkat, pedang kendo, membanting, menekuk, memiting, mengunci dan lain sebagainya. Karate adalah olah raga favorit gw. Sayang saat ini gw sudah tidak bisa menjalankannya lagi karena kondis mata gw yang tidak memperbolehkan gw melakukan full body contact.

Dari semua yang diajarkan karate, hal yang paling gw sukai bukanlah pertahanan dirinya yang kuat atau jurusnya yang keren-keren. Gw menyukai semangat Bushido yang sangat ditekankan dalam karate. Gw suka bagaimana karate tidak membentuk tubuh sekuat besi, tetapi memperkuat tubuh dengan menciptakan hati yang sekeras baja.

Gw masih ingat sumpah karate yang selalu dikumandangkan sebelum dan sesudah latihan dan selalu gw tanamkan dalam hati gw:
SUMPAH KARATE!
1. Sanggup memelihara kepribadian!
2. Sanggup mengamalkan kejujuran!
3. Sanggup meningkatkan prestasi!
4. Sanggup menjaga sopan santun!
5. Sanggup menguasai diri!

Ya! Dan terlebih lagi bagaimana karate menciptakan mental pantgang menyerah para karateka dan menanamkan Bushido dalam diri kami. Kami harus berlari sprint keliling lapangan latihan tanpa dihitung berapa kali dan tanpa tahu akan selesai kapan dan harus tetap menjaga kecepatan tinggi. Kami harus berlari dengan kaki telanjang melintasi jalan bergunung dan berbatu. Kami harus berkumite (latih tanding) dengan sensei yang tingkatnya jauh di atas kami. Yang mereka inginkan adalah melampaui diri kami sendiri dan mencapai jalan prajurit tersebut.

Kemudian yang lebih kusukai lagi adalah pada saat seorang teman datang setelah minggu lalu tidak masuk.

Senpai: Kenapa minggu lalu tidak masuk?
Karateka: Osu! Minggu lalu saya sakit,
Senpai: Sakit apa?
Karateka: Sakit pilek, Senpai!
Senpai: Demam?
Karateka: Tidak.
Senpai: Bisa bergerak?
Karateka: Bisa sedikit, Senpai.
Senpai: Selama masih bisa bergerak dan masih kuat untuk bergerak, seharusnya kamu tetap berusaha! Berusaha hingga kamu tak bisa bergerak lagi dan terkapar! Itulah Bushido!

Gw terpana. Senpai tersebut memeaparkan bahwa selama kita masih bisa berusaha, kenapa tidak kita lakukan. Kita jangan mencari-cari alasan bagi diri kita sendiri untuk menyerah. Kita harus berusaha terus sampai kita tidak dapat berusaha lagi. Jika menggunakan perumpamaan Samurai, yaitu sampai mati. Itulah BUSHIDO, Jalan Ksatria.

Gw selalu menanamkan hal tersebut dalam hati gw, walaupun saat ini gw tidak lagi berlatih, tetapi jiwanya selalu gw jalankan. Hal inilah yang membuat gw tetap dapat ujian, walaupun dalam kondisi panas 40 derajat. Hal ini terjadi di UTS kemarin. Sehingga, dengan belajar yang kurang, dan konsentrasi yang menurun. gw tetap memberanikan diri untuk tetap ujian. Gw gak mau menyerah begitu saja, mengerjakan seadanya. Gw mengerjakan semuanya dengan sepenuh hati, walaupun kepala gw berputar-putar seperti ingin runtuh. Gw gak peduli nilai gw berapa, yang penting, gw optimal dalam mengerjakannya dan tak ada penyesalan dalam diri gw. Jika gw menyerah dan gak datang ujian, gw gak akan dapat nilai apa-apa seperti gw gak akan dapat ilmu jika tidak datang karate. Jika gw datang, setidaknya gw akan dapat nilai walau kemungkinan kecil, seperti jika gw datang karate dalam keadaan sakit, mungkin ilmu yang gw peroleh sedikit.

Gw paling pantang dengan kata2 menyerah. Karena itulah, BUSHIDO adalah jiwa yang paling gw tanamkan dalam diri gw. Dengan bushido, akan gw pacu diri gw untuk menggapai impian gw.

Smile eternally,
Wirapati

Pyrokinesis

Suatu hari aku terbangun,tak dapat kugerakkan tubuhku sama sekali. Aku hanya dapat membuka mataku dan menatap langit-langit tanpa bisa mengangkat tubuhku untuk duduk. Kupikir aku masih dalam kondisi mengantuk dan kembali kupejamkan mataku. Setelah itu, aku tertidur. Tidak tahu berapa lama, entah dalam hitungan menit, dalam hitungan jam, atau hitungan hari, aku terbangun kembali dan dapat merasakan tubuhku kembali. kucoba membangunkan tubuhku dari tempat tidur dan kemudian aku kehilangan keseimbangan tubuh dan merasakan energi hilang dari tubuhku.

Segera kuletakkan tanganku untuk memijat kapalaku yang pusing dan kurasakan, bahwa tubuhku mengalami demam yang sangat tinggi. Segera kuambil termometer digitalku dan kuukur temperatur tubuhku. Bunyi bipbip terdengar dan kupandang angka di layar termometerku. Empat puluh derajat? Setelah tadi malam baik-baik saja? Tak bisa kupercaya kucoba berjalan keluar dari kamarku dan menuju ruang tengah. Kulihat keluargaku di sana dan mataku tidak menunjukkan rupa mereka dengan benar. Sepertinya penglihatanku mengabur.

Wajahku iba-tiba terasa sangat panas, seperti terbakar. Napasku seperti mengeluarkan api. Seluruh tubuhku seperti matahari yang memancarkan radiasi panasnya ke segala penjuru. Tubuhku seperti terbakar. Aku merasa seperti diselimuti api. Atau mungkin, lebih tepatnya, akulah api tersebut yang berusaha membakar sekelilingku.

Tiba-tiba segalanya berputar. Pemandangan semakin kabur. Aku pun merasakan kesemutan di seluruh tubuhku. Keseimbanganku goyah. Pada detik berikutnya aku sudah terkapar di lantai. Pandangan mataku gelap. Aku pingsan.

Saat aku terbangun, aku mencium bau yang sangat kukenali. Bau yang sangat dingin dan terasa zat kimia ringan di udara. Ini adalah ruangan UGD. Aku membuka mataku dan langsung mengenali ruangan putih yang sudah sering kumasuki ini. Aku berusaha mendudukkan tubuhku. Tubuhku masih terasa terbakar. Bahkan sekarang lebih membakar dibandingkan sebelumnya.

Di sampingku ada ibuku yang tampak sangat cemas. Kemudian, datanglah seorang perawat membawa alat pengukur temperatur yang diletakkan di telinga. Beliau berkata, "barang ini kami ambil dari stok dalam keadaan masih terbungkus. Kita lihat apakah keaanehan tersebut karena alat sebelumnya rusak." Perlahan dia letakkan benda tersebut di telingaku. Tanpa mengetahui sebabnya, entah kenapa napas semua orang tertahan. Saat perawat tersebut membacakan hasilnya, aku baru menyadari maksud percakapan mereka sebelumnya.

"Panasnya... 58 derajat celcius..."

Jika aku memiliki penyakit jantung koroner, mungkin aku sudah duduk tenang di pangkuan-Nya saat itu. Demam macam apa ini. Manusia dalam demam mencapai 42 derajat saja sudah terancam meninggal. Aku? Demam 58 derajat dan masih bisa melihat, mendengar, merasakan, berkhayal bahkan masih memiliki naluri seksku yang normal. Ini mustahil! Mana ada hal ini di dunia ini! Kemudian dokter memanggil ibuku untuk berbicara di luar. Aku ditinggal sendiri di dalam ruangan itu.

Aku menatap tempat tidur dengan perasaan yang berkecamuk. Ini sangat aneh! Tapi, ini terjadi di hadapanku! Kuangkat tanganku untuk melihat telapaknya, seperti biasa yang kulakukan saat aku sedang berpikir. Setelah beberapa menit, baru kusadari terjadi keanehan pada tanganku. Tanganku, perlahan-lahan mulai mnjadi merah. Sedikit demi sedikit. Dan dalam beberapa menit,tanganku sudah berpendar seperti besi panas dan kurasakan tubuhku pun semakin memanas seperti sedang dipanggang. Kubuka selimutku dan kutemukan kakiku juga berpendar. Apakah ini berarti panas ku telah melebih 100 derajat?

Tiba-tiba, dari mulut dan hidungku keluar api seperti napas naga. Dan tanganku memercikkan api. Saat kukencangkan otot tangan kananku, kutemukan tanganku mengumpulkan sesuatu berbentuk api. Kukocoba di tangan kiriku dan hal yang sama terjadi. Kujentikkan jariku dan api seperti pada pemantik muncul. Aku menjadi seorang Pyrokinesis, atau pengendali api.

Perlahan aku berjalan keluar rumah sakit, tanpa ada yang memerhatikan. Di lapangan parkir yang tampak kosong, kutatap langit yang berawan, kemudian dengan seluruh kekuatanku kulepaskan semburan api terbesar ke arah langit dan membelahnya, menuju angkasa. Dan aku pun terbangun.

==========

Once again, I got a very fantastic dream in my sleep. Mimpi ini muncul hari Senin kemarin kalau tak salah. Karena memang gw sedang demam 40 derjat at that time. Mimpi itu menghibur gw yang sedang sakit. Menyenangkan juga, hahahah! Dari dulu gw selalu menyukai api. The symbol of courage. Tetapi, seperti api yang bisa membakar apapun, keberanian pun dapat digunanakan untuk berbuat baik atau jahat. Tapi, tetep aja. Fire is the coolest pwer supernatural power.

Well, what's your favorite supernatural power? Pyrokinesis? Telekinesis? Super-human? Space and Time? or anything?

Smile eternally,
Wirapati

What-a-Wacky-Wednesday!! [WWW]

Wow! Dulu gw pernah punya postinga yg berjudul F3 alias Freaky Fun Friday, dan sekarang gw punya postingan dengan judul WWW alias What-a-Wacky-Wednesday! Sesuai dengan namanya Wacky, yeap, Hari Rabu tanggal 22 Oktober 2008 ini memang sangat stupid tapi very funny and exciting for me!

Pagi hari dimulai seperti byasa tak ada perubahan. Kehidupan berjalan normal dengan makan pagi, mandi dan kegiatan rutin lainnya. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini akan menjadi super ajaib dan mengesankan. Sama sekali tak ada tanda2 bakal seperti ini. Bahkan horoscope tidak memprediksikannya. Weton tidak menuliskannya di kitabnya. Primbon juga gak menyangka. Gak tau deh apakah Mama Lorentz sempet kepikiran apa gak.

Jam 10 Pagi gw pergi ke kampus dengan misi mengerjakan tugas Ekonomi Kemiskinan (duh namanya menyayat hati banget ya?), Gw akhirnya tiba jam 10 lewat dikit (setengah jam tuh dikit ya?). Dan pada saat gw tiba di FEUI, gw sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. PARKIRAN FEUI PENUH!! Itulah kenapa gw benci dateng ke FE di jam2 nanggung. Walaupun tahu pasti gak dapet, gw tetep membawa mobil gw ke parkiran KaFe di belakang yg super pewe dan adem punya. Pucuk Dicinta Ulam Tiba! Ternyata ada satu parkiran kosong di Kafe. Langsung aja gw dekati dan ambil ancang2 parkir. Satu kali mundur, maju, dua kali mundur, maju lagi, tiga kali mundur, maju lagi,...., sembilan kali mundur, masyaallah! Sempit bange space yang tersedia! Padahal mobil gw gak sepanjang Uchal (Ini ambigu! Apakah mobil gw sepnajng badan uchal ato mobilnya uchal?) tapi tetep gak muat! Gw tinggalkanlah parkiran biadab itu dan memutar ke depan. Gak dapet juga!!! Dengan penuh harapan gw balik lagi ke parkiran favorit gw. Dan menemukan space yg gw masuki dengan susah payah sudah ditempati. Koq BISA!?? Yaiyalah mobilnya Karimun!!

Setelah bersusah payah nyari parkit dapetlah di sebelah Pertamina Hall deket Jembatan Teksas. Gw pun berjalan ke tempat terpewe seumur hidup yaitu Ruang Emix. Di sana sudah tersedia Uchal dan Icha yang sedang melihat trailer Twilight. Hmm... Trailernya menggiurkan. Tak lama2 (alias lama banget) Happy pun tiba. Rencana awal kami untuk mengerjakan tugas Emisk pun dimulai. Dan kami bingung. Pekerjaan kami membutuhkan software bernama STATA yang super tidak user friendly (Ya Tuhan kalau engkau melahirkanku kembali, jadikan aku seorang Programmer yang bisa membuat program aplikasi statistik yang super user friendly). Berjam2 kami berkutat dan program itu super gak friendly. Akhirnya pekerjaan dipending karena waktu sudah hampir habis.

Kemudian Taufik, senior gw anak IE 2005, yang sedari tadi bermain Spore di komputer Emix (atas nama Uchal karena itu komputer dya) mengajak gw untuk mengambil kartu Magic! The Gathering yang sudah dya janjikan ke gw! Waw! Senangnya! Gw pun dapet kartu segepok penuh (lebih kale). Dengan ini gw bisa bikin deck baru. Dari dulu gw memang menyukai Trading Card Game yang mengasah otak. Taufik memperkenalkan gw dengan permainan bernama Magic! The Gathering ini.

Setelah itu, kami pun luntang lantung gak jelas arah dan tujuannya. Akhirnya pada jam 4 di mana kami diusir dari ruangan karena mau dikunci, kamipun ke ruang KANOPI untuk belajar Internasional Lanjutan (Interla). Taufik si jenius mulai mengajarkan kami. Dua chapter terpenuhi! Luar biasa! Jam 6 kegiatan pun berakhir dan dilanjutkan dengan... sebelum itu gw boker dulu krn dari siang gak sempet. Setelah itu, gw, Uchal dan Riko memutuskan untuk makan malem sebelum melanjutkan belajar. Pergilah kami ke Mie Rasa di Kutek.

Mie Rasa... Kedai favorit gw si deluruh dunia!!! Sumpah! Keren banget nih kedai. Buat gw, HARGA ALHAMDULILLAH, PORSI MASYAALLAH!!! Alias, harganya murah, kenyangnya ampe eneg. Parah dehh. Gw makan segitu banyaknya aja (gak usah nanya seberapa banyak, pokoke cukup buat satu pleton angkatan darat makand dehh) cuma abis 11rb. Di mana klo makan di Kafe, cuma Dapet MU+es teh manis cemonk. Sambil makan, temen gw Radhi yang baru saja tiba minta diajarin ESDM. Mumpung masih inget gw ajarin lah semampu gw.

Selesai dari makan, gw Uchal dan Riko niatnya pengen belajar di kostan Riko yang berAC. Tapi, mempertimbangkan jauhnya kosan Riko dan WCnya yang jongkok (di mana gw lagi super kebelet boker saat itu) akhirnya kami memutuskan untuk belajar di kosan Radhi aja. Karena Radhi masih mesen makan, kami pun duluan ke rumah radhi setelah dikasih kunci kosannya radhi. Sampe di rumah radhi, barulah yang terbodoh dimulai!

Riko: Gw gak tau lohh kamarnya Radhi..
Roy: Uda ikut gw aja. masih inget!
Uchal: Uda lama gw gak ke sini, terakhir pas belajar statistik.
(sampailah di depan pintu flatnya Radhi)
Roy: Kuncinya yang mana ya?
Uchal: Yaelah cobain aja satu2!
Roy: Ini yang kecil gak bisa. Gak mungkin yang saunya lagi. Lebih gedhe dya.
Riko: Ahh, gak mungkin.
Uchal: Coba sini. (Berusaha memutar kunci sambil menekan pintu)
Roy: Tuhkan masih gak bisa,
Uchal: Coba sambil gw turunin kenopnya. (Menekan kenop)
Roy: Wah masih gak bis...
(Terdengar bunyi pintu kebuka) Krriiieeett..

Kemudian pintu di depan mata kami terbuka begitu saja tanpa ada suara kunci yang terbuka. Tanpa ada mantra terucap. Tak dijemput, tak diantar. Ternyata... Pintunya sejak awal tidak dikunci. Tanpa buang2 waktu kamu langsung masuk ke dalam tanpa pandang bulu. Orang2 kosan di ruang tengah mungkin dari tadi uda ngelyatin sambil bingung nih orang ngapain sih. Bahkan berdasarkan spekulasi Riko, salah satu dari mereka uda ada yg gemes sambil meneriakkan dukungan untuk langsung membuka pintunya, tapi dalam hati. Uda di kosan orang, bikin malu lagi.

Setelah kejadian bodoh tadi, gw langsung berkunjung ke WCnya Radhi yang duduk itu. Nyaman banget. Dari dulu gw uda ngidam buat ngekos di kosan ini. Gak tau kenapa sampe sekarang gak kesampean. Setengah jam kemudian Radhi pun tiba. Radhi nyampe, dya nanya2 lagi tentang ESDM. Sambil ngelayanin pertanyaan Radhi, tiba2 terdengar suara2 aneh dari dalam kamar. Satu per satu kami tertarik masuk ke dalam. Ternyata temen gw, Kunam, lagi nonton film super tolol plesetannya Lionmaru (tapi yang diplesetin cuma subtitlenya doank). Walopun yg diplesetin subtitlenya doank, tapi sumpah lucu banget.

Ada satu adegan yang mengesankan buat gw, di mana ada 2 orang pingsan yang digantung kebalik sama musuhnya di pohon. Trus jagoannya dateng dan ngomong bahasa Jepang. Subtitlenya:

Jagoan Cewe: Apa itu?
Jagoan Kecil: Sedang apa mereka begelantungan di sana.
Jagoan Cowo: Biar saja mereka memang senang Hang Out (bergelantungan di luar)..

Sumpah itu baru sebagian kecilnya doank. Sepanjang film gw cuma bisa ngakak doank. Kocak banget. Samp gak bisa napas, dada sesek. Di tengah2 para anak kosan yg lg blajar kita ketawanya kenceng banget. Uda numpang gak tau malu!

Akhirnya berakhir juga hari yang panjang ini.Gw pun pulang dan dengan lelah menyetir pulang dengan masih menyisakan kekocakan hari ini dalam catatan kehidupan gw.

Smile Eternally,
Wirapati