Showing posts with label Visi. Show all posts
Showing posts with label Visi. Show all posts

Siapakah "Negara" Itu?


Sudah lama juga tidak menulis dalam Bahasa Indonesia untuk blog ini. Aku memang mencoba banyak menggunakan bahasa Inggris untuk berlatih menggunakan bahasa internasional tersebut mengingat kemampuan bahasa Inggrisku yang masih kurang. Tapi, khusus kali ini, karena aku ingin berbicara sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan bangsaku, bangsa Indonesia, maka kutuliskan ini dalam bahasa persatuan kami, bahasa Indonesia.
Aku ingat pernah menemukan pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang teman di kampus tentang “negara”, Temanku ini bertanya dalam status Facebook-nya, sebuah pertanyaan yang menyangkut UUD 1945 Pasal 34.
“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Siapakah 'Negara' itu?”
Ini adalah pertanyaan yang cukup menarik dan kurasa setiap orang bisa saja memberikan jawaban yang berbeda dengan perspektif masing-masing yang berbeda pula. Apakah definisi dari entitas yang disebut negara ini? Tentunya bukan pemerintah saja bukan? Karena pemerintah adalah salah satu bagian dari entitas negara. Pertanyaan dapat berlanjut menjadi bagaimana negara “memelihara” fakir miskin dan anak terlantar ini?
Aku memiliki perspektifku sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Entah apakah ada orang lain yang memiliki perspektif yang sama denganku atau tidak, tapi aku mendapatkan jawaban sederhana ini dari kontemplasi yang kuperoleh saat mengajar PPKn sewaktu aku masih menjadi guru sekolah dasar sebagai salah satu Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar. Betapa menariknya bagiku, bahwa jawaban ini bisa dijawab dengan ilmu yang diajarkan kepada murid sekolah dasar, setidaknya menurut perspektifku.
Semua definisi ini berawal dari pertanyaan mendasar, “apakah syarat sebuah negara?”
Syarat sebuah negara adalah memiliki wilayah, memiliki penduduk, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Tanpa salah satunya, maka sebuah entitas tidak dapat dikatakan sebagai sebuah negara (tentu saja, bayangkan ada negara tanpa salah satu dari ketiganya), Sehingga, melalui syarat-syarat tersebut yang membentuk keberadaan negara, dapatlah kita simpulkan bahwa ketiganyalah yang harus memelihara fakir miskin dan anak terlantar di negara ini berdasarkan konstitusi.
Kita mulai dari pemerintah. Sangat jelas bahwa di negara manapun, pemerintah berkewajiban untuk menjaga kelangsungan hidup fakir miskin (tidak membiarkan mereka mati kelaparan atau sakit) dan melakukan usaha pengentasan kemiskinan. Aku rasa hal ini sangat jelas dan tidak ada perdebatan apakah perlu pemerintah memberikan dukungan kepada para fakir miskin. Sebab, negara seliberal Amerika Serikat sekalipun, ternyata tidak kalah sosialis dengan negara sosialis kebanyakan dalam hal penyantunan orang miskin. Tidak perlu dijelaskan dengan lebih jauh.
Kemudian, penduduk Indonesia harus memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Dengan kata lain, kita semua, walaupun kita bukan bagian dari pemerintahan, harus memelihara mereka. Banyak cara yang bisa dilakukan. Contoh paling sederhananya adalah menyantuni mereka. Mungkin banyak orang yang memiliki perspektif bahwa menyantuni dengan memberi uang atau barang tidak efektif, karena hanya berjangka pendek sehingga tidak menyelesaikan masalah. Kalau begitu bisa dilakukan dengan memberikan mereka pekerjaan, atau pendidikan yang layak agar mereka dapat mandiri di kemudian hari. Namun, kita tidak boleh lupa, definisi penduduk dalam syarat tersebut tidak memiliki batasan tertentu. Artinya, fakir miskin dan anak terlantar juga termasuk dalam kategori penduduk tersebut. Dengan kata lain, mereka juga harus memelihara dirinya sendiri. Mereka juga harus punya semangat untuk mandiri dan melepaskan diri dari kemiskinan dengan kemampuannya sendiri. Sehingga, mereka tidak boleh hanya berpangku tangan dan menunggu disuapi oleh orang yang lebih beruntung. Kata penduduk berlaku bagi semua penduduk Indonesia, tidak terkecuali kaya atau miskin.
Terakhir, wilayah NKRI harus memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Apa artinya? Artinya, seluruh wilayah Indonesia beserta sumber daya yang berada di dalamnya harus dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyatnya, termasuk fakir miskin dan anak terlantar. Sehingga, seharusnya sumber daya alam, mineral, energi dan lainnya harusnya dapat diakses dengan mudah termasuk oleh para fakir miskin dan anak terlantar. Inilah yang seringkali dilupakan oleh pemerintah. Banyak kendala kemiskinan di negara ini sebenarnya berasal dari masalah yang disebut “akses”. Banyak orang miskin yang tidak memliki akses yang mudah terhadap bahan makanan bernutrisi. Banyak orang miskin yang tidak memiliki akses yang mudah kepada lapangan kerja atau untuk membuka usaha. Banyak pedesaan yang belum terakses terhadap listrik atau telekomunikasi. Justru syarat pertama dari sebuah negara adalah pemegang kunci dasar pengentasan kemiskinan yang banyak terlupakan oleh banyak orang.
Akses tidak harus berupa penyediaan secara gratis. BIsa dilakukan dengan penyediaan dalam harga yang murah, diimbangi dengan akses terhadap mata pencaharian yang memadai atau pendidikan yang memadai untuk mengolahnya. Untuk dapat mengoperasikan “wilayah” agar dapat memelihara fakir miskin, diperlukan usaha dan kerja sama dari dua syarat lainnya, yaitu adalah pemerintah dan penduduk. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan penduduk, tidak terkecuali fakir miskin itu sendiri, untuk menyediakan atau minimal mempermudah akses bagi fakir miskin dan anak terlantar untuk mengakses sumber daya yang ada dalam NKRI. Sehingga, "wilayah" tidak seakan hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.
Kesimpulannya, mengatasi masalah kemiskinan, serta memelihara para fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia adalah tugas bagi seluruh isi dari negara Indonesia, terutama seluruh warga negara Indonesia, tanpa terkecuali. Percuma jika pemerintah dan penduduk lainnya berusaha mengentaskan kemiskinan, tetapi orang-orang miskin tidak memiliki keinginan dan turut berusaha mengeluarkan dirinya sendiri dari kemiskinan. Juga sebaliknya, percuma jika orang miskin membanting tulang memperbaiki kualitas hidupnya tetapi tidak didukung atau lebih parahnya lagi jika dihambat oleh pemerintah dan penduduk lainnya, karena ingin menguasai sumber daya yang ada di wilayah Indonesia bagi dirinya sendiri. Semua harus memiliki kesadaran untuk turut berpartisipasi tanpa terkecuali. Itulah makna sebenarnya dari berbangsa dan bernegara.
Salam,
Wirapati

What it means by "DREAM BIG"

It's been months since I became Pengajar Muda in Gerakan Indonesia Mengajar. I have seen a lot and learn no less than that. Being a teacher, I always tell my students to Dream Big, and to put their dream as high as the sky or even higher. I always tell them to fill the empty blue sky with their rainbow of dreams which in the future will elevate the prosperity of the nation. But, in the end, they always come up with a big question mark.

What is the meaning of DREAM BIG?

You may come up with a very cliche answer, like dream big is to dream something very big, like becoming a president or any cool job you can ever imagine. Yeah, most of us might answer that. But, I ask them back when they answer like that, "What would you do when you already reach your dream?" They might end up in silent, not knowing what to answer. We can dream of becoming a president, then what would we do when we already become a president? We can dream of becoming a minister or professor, then what? That's the end of it? Then, we're not dreaming big.

Dreaming big is not about how big the job/profession that you dream of, it is about how big the thing that you do as that profession.

You might think that being a farmer is a very small dream. Yeah, everybody could dream that. But, it's the same as being a president, easy to dream. Then how about being a farmer that has thousand hectares of land and employs thousands of workers, participating in eradicating unemployment. Small? Not at all. It is a big dream rather than a small nothing dream like becoming a president. If you want to become a president, then explain what would you do once you reach that place. And the things that you will do must big and influencing to other people. Never dream of something which could only beneficial to yourself. That is what I mean by "Dream Big".

I let them write all of their big dreams and surprisingly I saw some extraordinarily big dreams.

I want to become a president who bring this country to prosperity. I want to become a teacher who makes my students go into college. I want to become a minister who combat poverty. I want to become a mechanics who invent the fastest car in the world. And many more.

These are the big dreams of the small kids. So, why can't we dream more than them. We, adults, shouldn't be stopped on what profession we would like to have after this. Start thinking what are we gonna do and dream big! This world is the manifestation of the dreams of the people from the past. Let us shape this world with our big dreams which create a better world for every one.

Dream Big,
Wirapati

A False Paradigm of Monetary Policy

This is the result of my discussion with my boss, Mr. Gandjar Mustika, and a quick-reading of Stiglitz's book entitled "A New Paradigm of Monetary Policy".

We have acknowledged very well that there are three goals of Central Banks, especially our Bank Indonesia (BI), as monetary authority: Price Stability, Exchange Rate Stability and Banking Surveillance. These are our so-called classic paradigm for monetary policy. It exists merely for currency stabilization, neither less nor more. Therefore, monetary authorities often forget about the whole economic system since they focused more on the currency. They are too preoccupied by a single leaf and forget to see the whole forest.

In fact, monetary policy plays big role in economies. They can create major changes on the system just by imposing any single monetary policy. A monetary policy can affect economic growth, deciding the whether government's goal can be achieved or not. However, it seems that monetary authorities often take monetary policy easy since the existence of the false paradigm discussed above.

Do you remember Phillips Curve? It is a curve which explains about the relationship between unemployment and inflation, and in the expansion, explains about the relationship between economic growth and inflation. It should be a somewhat useful tools on deciding what kind of monetary policy should be implemented. However, classic paradigm considers that reducing unemployment is not the task for central banks, another false paradigm of monetary policy.

In addition, we always thought that monetary authority should not think about the poverty eradication, let it be government's mind. It was during my undergrad thesis that I realize that people are too rigid on the classic paradigm. When I was writing about the "Pro-poor Monetary Policy", I always heard people commenting about my work said that there is no way monetary policy can be directed to alleviate poverty or that the relationship is way too far to be implemented.

I guess that is wrong.

The truth is the poor is affected by the monetary policy. The easiest examples is how the poor would suffer if the inflation jumps more than their increase in income. However, this price stabilization is still the classic paradigm. But, it is true, isn't it, that monetary policy do affect the poor? How can we said that monetary policy cannot reduce poverty. It can! In fact, it is a powerful tools that can combat poverty and unemployment in quick re-active and pro-active manner, because contrary to the rigid fiscal policy, monetary policy is way more flexible to change in different times.

I am not going to talk about pro-poor monetary policy here. It is only just a little example. Why do I say little? Because, all of it is just a small fragment of the whole economy. The new paradigm of monetary policy is the paradigm that the monetary policy should consider the whole economy on its decision. Price, currency and banking is only just leaves in the forest. Why are we reducing central banks' role to a very small task when they have great potentials of affecting the whole economy?

Central bankers should not be pre-occupied by the false pillars of central banks task. There are more than that which we should explore more. Monetary policy does have a multi-dimensional features. Moreover, it is a modern, flexible mechanism which bears the potential of controlling and creating an environment conducive for economic targets, i.e. poverty eradication.

More research on monetary policy dimensional impact should be researched even more. We must not consider it as an easy and closed tool. We must expand it and use it to improve our economy even more.

Economists! Think outside the box!!

Wirapati

Hidup yang Kuinginkan

Apa yang kuinginkan dalam hidup ini? Apakah hanya sekedar belajar, memperoleh pendidikan tertinggi, berkeluarga, mencari nafkah, hidup berkecukupan, bahagia dengan keluarga, dan kemudian meninggal dengan tenang? Part of it, yes. Tapi aku tidak mau hanya hidup seperti itu.

Aku hanya ingin hidup di dunia yang sedikit kurang biasa, jika tidak bisa luar biasa. Aku ingin bisa memanfaatkan hidupku yang hanya sebentar di dunia ini, untuk menjadi manfaat bagi sekelilingku, bagi dunia ini. Aku belajar, berkarya dan berpikir hanya demi satu impian dan visi ini. Aku ingin, suatu hari nanti, aku bisa melakukan sesuatu yang besar demi dunia ini, sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Sehingga aku bisa meninggalkan bukti kehidupanku, bukti keberadaanku. Sehingga aku bisa terus hidup di dunia ini, dalam buku sejarah, dalam biografi, dalam buku teks kuliah, dan dalam ingatan semua orang. Sehingga, aku bisa mencapai sesuatu yang disebut keabadian. Keabadian yang menurut diriku sendiri. adalah tetap hidup di hati seluruh umat manusia.

Tapi, bagaimana jika aku ditakdirkan untuk hidup normal?

Maka aku tidak terima. Aku akan memberontak dari nasib, menggeliat dari takdir, dan melepaskan diri dari belenggu waktu. Waktu boleh berhenti bagiku, tetapi hidup harus tetap berjalan bagiku. Memang ini adalah impian yang sangat kekanakan dan egois serta terdengar tidak masuk akal. Tapi inilah The Boy That Lives Inside Me. Inilah hal yang selalu kuimpikan semenjak aku dapat berpikir. Dan aku akan terus memimpikan ini, sebagai anak lelaki yang tak pernah melepaskan harapannya, dengan optimisme yang lebih besar dari semua orang di dunia ini, dengan semangat hidup yang tak terbendung. Berapa tahun pun aku ditakdirkan hidup, akan kuciptakan legenda diriku, in my Quest of Legacy.

Dream On!
Wirapati

P.S. Sudah lama tidak menulis seperti ini. Lega rasanya. :D

A Life for Economist

Setiap disiplin ilmu pasti memiliki profesinya masing. Tapi sejak dahulu kala, ada sebuah profesi yang menarik perhatianku selain profesi dokter (aku sempat ingin menjadi internist spesialis diabetes karena sekeluargaku mengidap diabetes). Profesi itu adalah profesi yang kuanggap sebagai profesi paling berani di dunia.

Mereka tidak mengangkat senapan dan bayonet. Mereka tidak menumpahkan darah manusia lain. Mereka tidak mati demi negara. Tetapi, mereka hidup demi negara ini. Mereka adalah PARA EKONOM.

Apakah yang mendasari pemikiranku ini?

Ekonom tidak berbeda dengan para ilmuwan. Mereka sama-sama melakukan penelitian. Mereka sama-sama berkutat dengan persamaan matematika yang rumit, dengan segala rumus kalkulus dan mekanika kuantum yang sulit dimengerti. Mereka sama-sama memeras otak demi kemajuan umat manusia.

Tetapi, ada satu yang membedakan ekonom dengan para ilmuwan: Mereka hidup dalam kondisi yang disebut KETIDAKPASTIAN. Tidak ada sesuatu yang pasti dalam ilmu ekonomi. Setiap penelitiannya selalu menggantungkan diri pada asumsi, asumsi-asumsi yang juga tidak pasti. Hasil penelitiannya pun tidak pasti bekerja 100% seperti yang diperhitungkan.

Tidak hanya itu. Kondisi perekonomian pun selalu pada kondisi yang tidak pasti. Semua dipengaruhi oleh ekspektasi. Hari ini perekonomian baik, besok bisa saja terjadi krisis. Hari ini harga barang turun, besok bisa saja terjadi hyperinflation. Tidak ada yang pasti dalam ekonomi. Semua berada dalam ketidakpastian.

Tetapi, para ekonom adalah sekelompok cendekiawan yang memutuskan untuk hidup dalam ketidakpastian itu, hidup dalam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan murni secara verbal, maupun matematis. Profesi mereka pun tidak berlimpah ruah dengan uang, tidak bergaji besar, dan juga tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan korupsi. Itulah mengapa jurusan Ilmu Ekonomi tidak sepopuler jurusan Manajemen dan Akuntansi, sebab keduanya memberikan pengembalian gaji yang lebih besar dibandingkan lulusan Ilmu Ekonomi yang menjadi ekonom. Tidak banyak juga lulusan Ilmu Ekonomi yang tidak menjadi ekonom sebab masih banyak pekerjaan lain yang berpenghasilan lebih tinggi. Memang ekonom tidaklah sepopuler manajer sebuah perusahaan Big 5.

Tetapi, mereka adalah sekumpulan orang-orang yang visioner, yang berpikir semata-mata demi negara ini, walau tak sedikit pula di antara mereka yang menyeleweng menjadi perompak bagi negaranya. Mereka adalah golongan yang selalu melihat ke depan, memprediksikan sebuah rangkaian kejadian, hanya dengan bermodalkan teori dan napak tilas masa lampau, berpikir 2-3 langkah lebih jauh dari penduduk negara lainnya, bahkan terkadang lebih jauh selangkah dari pemimpin tertinggi sebuah negara.

Mereka adalah orang-orang yang dipersalahkan, saat terjadi krisis di sebuah negara, saat perbankan dilanda kepanikan, saat uang simpanan masyarakat di perbankan tak dapat dikembalikan, saat harga-harga naik, dan saat kehidupan masyarakat dilanda kemiskinan. Merekalah yang dipersalahkan, walau bukan sepenuhnya kesalahan mereka, walau mereka sudah berusaha dengan baik, tetapi memang malapetaka tak dapat diprediksi.

Mereka yang meletakkan batu pertama fondasi perekonomian bangsa, dan mereka pula yang disalahkan karena dua puluh tahun kemudian perekonomian memburuk. Padahal, semasa mereka menjabat, perekonomian tumbuh dengan baik. Banyak yang menyalahkan mereka, karena tidak mampu melanjutkan visi yang mereka bangun karena terpojok oleh kepentingan politik pihak tertentu.

Mereka yang disalahkan, selalu mereka yang disalahkan. Tetapi, mereka adalah sekelompok para pemberani. Mereka rela menjadi pihak yang dipersalahkan, semata-mata karena mereka ingin mengabdi bagi negara ini, tidak peduli apakah mereka dicaci. Mereka rela dicoreng namanya, selama Tuhan tidak mencoreng amal dan ibadah mereka. Tetapi, hanya sedikit dari para ekonom yang secara sejati menjadi ekonom sepenuhnya, yang memiliki visi jangka panjang demi negeri ini. Banyak di antara mereka yang mencoreng hidupnya dengan korupsi dan kepentingan politis yang menyengsarakan rakyatnya.

Aku bukanlah seorang ekonom, atau mungkin belum menjadi seorang ekonom. Aku ingin menjadi ekonom, karena aku mengagumi keberanian dan kerelaan mereka untuk hidup dalam ketidakpastian dan kambing hitam. Merekalah para pemberani, yang jasanya sering kali dilupakan.

Merekalah PARA EKONOM.

Wirapati

A Little Alteration

Whoaa.. Somehow I want to write it in English. So, why not?

In this post I would like to change something. I found it that I'm doing something wrong right now. Yeah, something really, really wrong. Real thanks to my parents and my best friends, especially Winta from her last comment, for making me realize how wrong I am.

Yeah, I was wrong for mixing things like dreams and love. I'm trying to fulfill my dream for someday so that I could get love. I realize that it was completely wrong. It is against my principle, that a woman that will accompany me someday, should be the woman who accept me the way I am, with my current advantages and disadvantages. A woman that I get that way, is not the woman that I really want. Yes, my bad. It is my biggest mistake.

Moreover, mixing up dreams with love is also a great mistake. I never wanted to do that. I just want to chase my dream, and keep chasing it, no matter if I will find my love or not in the process. That is me, the real me in the past, who try to chase my own dreams regardless of anything.

This time, I try to alter it all. I'm going to chase my dream, only my dream. And I try to open up my eyes, just in case that maybe I'm just too closed minded. I almost forgot about one of my favorite philosophy: Preoccupied by a single leaf, you can't see the tree. Preoccupied by a single tree, you can't see the forest. Preoccupied by a single forest, you can't see the whole earth. Preoccupied by the earth, you can't see the universe. Preoccupied by the universe, you forget the life.

I will try to return to my original self, completely, not the false one I'm trying to be after all this time. I was trying to be someone, but forget to be myself. It was my bad. But, there's no point of regretting. I'll change myself!

Smile eternally,
Wirapati

The World and The Smallest Being Called Human


Dunia ini besar ya?

Hal itulah yang terpikirkan saat aku masih kecil dan mempelajari geografi dari guru SD-ku. Aku hanya memandangi sebuah peta atlas besar di belakang ruang kelasku dan memandangi kumpulan karbon, hidrogen, oksigen dan bahan-bahan lainnya yang membentuk pulau-pulau dan lautan.

Sejak kecil aku bermimpi untuk mengubah dunia. Ya. Impian sederhana dari setiap anak kecil di dunia ini. Sebab, pada saat itu, semua hanyalah hitam dan putih bagi kami. Sehingga, kami selalu bermimpi untuk mengubah segala yang hitam menjadi putih.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku menyadari satu hal yang menjadi beban pikiranku selama ini: Bagaimana caranya mengubah dunia? Kemudian aku berpikir keras. Mengubah bentuk pulaunya? Mengubah kota-kota yang terdapat di dalamnya? Mengubah komposisi dari udara dan air, serta tanah di bumi ini? Aku menolak semua jawaban itu.

Hingga akhirnya aku menuju kepada sebuah kesimpulan, yaitu adalah mengubah unit terkecil pembentuk dunia ini, bukan bakteri atau virus, tetapi Manusia. Manusia adalah individu-individu yang bergerak berdasarkan logika dan kemauannya sendiri. Hidup, berkembang dan berevolusi seiring dengan berjalannya waktu. Membangun peradaban dan pada akhirnya menghancurkannya sendiri. Ya. Unit-unit terkecil yang diakumulasikan sebesar 6 miliar dan membentuk sebuah komunitas besar, yang selama ini kita sebut sebagai DUNIA.

Manusialah yang menyebabkan segala yang terjadi di dunia ini. Kerusakan alam, Perang, Kehancuran Peradaban, serta hal-hal positif seperti Pembangunan, Kemajuan Teknologi, dan sebagainya. Manusia adalah arsitek dunia ini. Karena itulah, mengubah dunia berarti mengubah manusianya terlebih dahulu.

Lebih dari itu, kawan. Sadarkan bahwa kita sendiri adalah manusia? Kita adalah manusia, salah satu arsitek dunia ini, sekecil apapun peran kita, kitalah yang membentuk dunia ini.

Jika benar keinginan kita adalah mengubah dunia ini. ubahlah diri kita sendiri. Ubahlah diri kita sendiri menjadi perubahan yang ingin kita lihat pada dunia ini. Mulailah dari unit terkecil, yaitu manusia, yaitu diri kita sendiri, sebelum mengubah orang lain, sebelum mengubah dunia ini.

Lihatlah dunia dalam diri kita. Ubahlah dunia tersebut dan jadikanlah perubahan tersebut diri kita sendiri. Dunia takkan berubah sebelum kita sendiri mengubah diri. Ingatlah, bahwa sekecil apapun kita di dunia ini, kita tetaplah salah satu dari arsitek dunia.

Jangan sangkut pautkan pada kedudukan dan kekuasaan. Ubahlah duniamu, karena kamulah arsiteknya!

Teruslah Berdiri!
Wirapati

Sebuah Puisi untuk Impian dan Harapan


Bila kuseka air mataku
Dan kulayangkan pandanganku
Aku bisa melihat mimpi-mimpiku
Jauh di ujung cakrawala tanpa batas

Kutegakkan badanku
Kulangkahkan kakiku
Aku bisa menjalani hidupku
Walau hanya selangkah mendekatinya

Kuangkat lenganku
Kugapai dengan tanganku
Aku bisa merasakan harapanku
Dapat meraih tujuan dan cita-citaku

Itulah aku
Aku hidup karena mimpiku
Aku takkan mati demi mimpiku
Aku akan hidup bersama mimpiku

Kugapai, kuraih, Kurentangkan tanganku
Walau hanya selangkah lebih dekat pada mimpiku
Kujalani hidupku

Dengan berbekalkan segenggam mimpi,
Aku melangkah di jalan yang aku percayai.

Perkamen Sang Pemimpi, 27 Desember 2009.
Hanya sebuah gejolak perasaan saat sedang mengerjakan tugas akhir kuliah S1-nya.

Everybody Can Change The World

I always remember the biggest dream when I was little. Indeed that I always have a lot of dreams, like being an F16 Pilot, doctor, etc. But, there is only one dream which I always keep up until now.

I swore that I would change the world!

I grew under a very turbulent era where the world keeps going up and down. Crises, wars, poverty, global warming, and so many other blistering catastrophes in the past. They have been decorating the headlines until now. It gives me motivation for changing this world as my lifetime contribution.

But, Can I?

I believe it not just me. Everybody does have this kind of answer for a big dream or even bigger dreams than this. You can always feel unable to accomplish something that is very hard to achieve. You may feel uncapable for that. Even a capable person can fail to accomplish such a dream. So it is normal for us to feel that inferior.

But, really, I think everybody can change the world. Yes! Everybody, despite of their uncapabilities. But, of course in a different way.

We might have heard stories of a father which can accomplish his dream of becoming engineer and ended up being a hourly labor. He work hard as that hourly labor to finance their children to be able to go to college. He passed his dream to his children.

We must do the same. If we ourselves cannot accomplish it, pass it on somebody else, most likely is our heir. Plant the same vision as you have and help him/her/them to achieve it. It may not you who change the world, but your vision does.

No matter what, there are always a chance for you to change the world. The most important thing is that you have to have vision to be spread, since you might not be able to accomplish it by yourself.

Life sure is short. So why don't we prolong it by spreading our vision to others. Starts with our own heirs.

You can someday change the world!
Yes, everybody can change the world!

Smile Eternally,
Wirapati

The Power of First Time

I watched the TV and caught a very incredible news that I've been waiting for long. The result of US Presidential Election. Even though it was not done actually, since not all electoral vote had been taken, but Obama had already won 297 votes (they only need 270 to win the election). And this has made Barack Obama, a 42-years old man, becomes the first 'black' president of the United States.

How incredible was it? He is the first 'black' president of US. That's phenomenal since US was once had a heavy discrimination over black people. And now, the black person is standing as the first person of US. The first time and now, he has wrote a history.

Now, I want to discuss about 'The First Time'. Don't you think that it was the most memorable moment in this world. The first time will always be remembered better than the second, the third, and so on. First time is a special moment.

You always memorized the moment where you are first able to do something, first arrive to someplace new for you and any first time moment for you. Why? Cuz, you don't want to miss the memories of the first time and you considered it as a special one.

Now, the first person to invent electricity, the first person to invent telephone, the first person to discover gravity, the first person to derive a mathematical equation of relativity, the first person to step on the moon, and every first person to do something in history. They are and always are someone who will be remembered by this world. Those are proofs that first time is a very special thing for humans.

So, do you want to be the first time? Why don't we try to implant a vision to ourselves to be the first person ever to do something special to this world, or our nation. Like, being the first Indonesian ever nominated as Nobel Laureate of Economics. Well, every little thing can be a historical moment. All we can do is grab that vision and do our best to achieve it. Walk in the path that you believe is right.

Are you dare enough to be the first one?

Smile eternally,
Wirapati

Learn . Think . Create . Act

Apakah ada yang tahu maksud dari judul postingan ini? Secara harfiah semua pasti tahu. Tapi, makna khusus di dalamnya? Yah, saat ini hanya segelintir orang yang mengetahui mengenai makna khusus dari 4 kata tersebut. Dan mereka yang tahu adalah panitia 6th Economix di mana gw berada di dalamnya. Bahkan tidak semua panitia Economix mengetahui filosofi dari 4 kata yang menjadi etos kerja 6th Economix ini. Oke, gw akan menjelaskannya demi para panitia 6th Economix dan teman2 lainnya, serta para pembaca yang tersayang.

Empat kata tersebut adalah basis utama kegiatan 6th Economix. Mereka adalah gambaran dari kegiatan 6th Economix. Keempat kata itu, gw dapatkan pada saat gw mengikuti Team Building Divisi Seminar and Discussion (Semdisc). Waktu itu, gw sedang menjelaskan mengenai tema kegiatan 6th Economix yang berpusat pada "Asian Youth Empowerment" dan bagaimana rangkaian acaranya dibentuk sedemikian rupa untuk memenuhi hal tersebut. Nah, di tengah2 penjelasan yang panjang lebar, tanpa sengaja gw mengutarakan bahwa setiap acara merupakan manifestasi dari tindakan empowerment yang spesifik. Dan... Duueerrrr! Langsunglah muncul ide untuk menjadikannya tagline 6th Economix dan pada akhirnya berkembang jadi etos kerja panitia 6th Economix.

Learn - Seminar (Day 1)
Learn adalah manifestasi dari seminar. Di dalam kegiatan ini, para pemuda akan belajar dan mendapat transfer ilmu dari pada generasi tua sebagai bekal ilmu pengetahuan.
Think - Discussion (Day 2)
Think adalah manifestasi dari aktivitas Diskusi di hari kedua. Di dalam kegiatan inilah, para pemuda akan dituntut untuk berpikir dengan bekal yang telah diperoleh dari generasi tua dan melakukan diskusi dengan pemuda lainnya untuk mencapai sebuah solusi berdasarkan keputusan bersama.
Create - Student Presentation (Day 3)
Create adalah manifestasi dari kegiatan Presentasi Mahasiswa yang membahas mengenai petisi. Petisi tersebut merupakan hasil dari Petition Making berdasarkan hasil diskusi di hari kedua. Penggunaan kata create adalah bukti bahwa para pemuda dapat menciptakan pemikirannya sendiri dan memaparkannya di depan publik.
Act - Action (Day 4)
Act adalah manifestasi dari kegiatan terakhir yaitu Aksi. Selain berpikir dan berteori, para pemuda juga dapat melakukan aksi nyata dari kepeduliannya terhadap dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda tidak hanya bicara tapi juga bertindak.

Nah, keempat kata itu merepresentasikan 4 kegiatan utama 6th Economix. Akan tetapi, pada dasarnya, keempat kata itu adalah tahapan aktivitas manusia. Pertama kali yang akan dilakukan manusia adalah mempelajari, kemudian hasil dari pelajaran tersebut akan membuatnya berpikir dan berusaha mengembangkannya, kemudian menciptakan sesuatu yang baru dan mengimplementasikannya. Bahkan, hal tersebut akan membentuk siklus di mana setelah melakukan aksi/implementasi, manusia akan mengevaluasi dan mempelajarinya lagi, sehingga akan kembali ke tahap learn.

Yap! Itulah the LTCA Cycle yang juga menjadi etos kerja 6th Economix. Dalam 6th Economix, panitia diharapkan untuk belajar dan mengembangkan dirinya, kemudian berpikir dan menciptakan sesuatu yang luar biasa, kemudian bertindak untuk mengaktualisasikan pemikirannya dan kembali belajar lagi untuk menciptakan sesuatu yang lebih hebat lagi, melalui 6th Economix.

Learn, Think, Create and Act adalah siklus pembelajaran. Mengenai LTCA Cycle ini, akan gw bahas lebih lanjut di blog gw yang filosofi (mungkin D&D ato HM).

Yup! Itulah 4 kata yang menggambarkan 6th Economix secara keseluruhan, mulai dari konsep acara hingga etos kerja dan dasar pembuatan retorika pengobar semangat sebagai Battle Cry dari 6th Economix untuk para pemuda.

We are the Young Generation, We Learn, We Think, We Create, We Act, and through Economix, We Try to Change This World!

learn, think, create, act!
Wirapati

A Vision to the Sky

What is sky? Where is sky?

Kita mulai dengan pertanyaan tersebut. Selalu kita mengatakan bahwa langit adalah sesuatu berwarna biru yang berada di atas kepala kita dan dipenuhi dengan kapas berwarna putih dan sebuah lampu berwarna kuning yang berpijar. Memang benar! Hal yang kalian sebut itu memang benar adanya adalah sebuah "langit".

Tapi, dari manakah langit dimulai? Di manakah batas awal langit? Sampai manakah batas langit di atas sana? Dapatkah kalian menjawabnya?

Aku memiliki pendapatku sendiri mengenai sesuatu yang disebut langit yang terinspirasi oleh sebuah buku. Langit adalah sebuah keberadaan yang terbentuk dari udara. Mengapa udara? Karena warna biru langit berasal dari pencaran cahaya oleh uap air yang terkandung di udara. Sehingga, langit adalah udara yang berada di atas tanah.

Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa langit adalah seluruh kandungan udara di seluruh ruang di atas muka bumi ini yang direpresentasikan oleh kenaikan kerapatan udara setiap kenaikan ketinggian tertentu. Batas akhir langit adalah sebuah ruang di mana udara sama sekali tidak ada atau dalam matematika biasanya kita mengatakannya mendekati nol, sehingga kita dapat mengatakan bahwa langit tidak memiliki batas. Tidak peduli ada atap, ada reruntuhan, di dalam gua, maupun di ruangan tertutup apapun, melihat ke arah perubahan kerapatan udara tersebut, merupakan sebuah kegiatan menatap langit. Kita dikatakan menatap langit selama kita tidak menatap bumi, dengan kata lain, selama kita tidak menundukkan kepala kita.

Mengapa aku membahas ini? Aku memiliki sebuah filosofi yang ingin kuturunkan dari filosofi mengenai langit ini. Filosofi tersebut adalah: Always look up to the sky, even when you're down to earth!

Kalian mungkin pernah mengalami kegagalan. Kegagalan yang membuat kalian sangat hancur. Mungkin karena kegagalan tersebut berhubungan dengan impian kalian, atau kehidupan percintaan kalian, atau kegagalan apapun yang dapat membuat kalian menundukkan kepala. Aku memiliki filosofi bahwa kita tidak boleh menundukkan kepala, pada saat apapun. Selalulah menatap langit dan jangan biarakan pandangan matamu atau kepalamu menghadap bumi karena itu menunjukkan bahwa kalian sudah kalah dalam kehidupan.

Menatap lagit adalah representasi dari selalu melihat ke masa depan. Tidak perlu melihat sesuatu yang sudah kita pijak terlalu lama. Biarkan sesuatu yang menjadi pijakan tersebut menjadi pedoman kalian dalam menghadapi masa depan. Janganlah terpaku dengan hal tersebut.

Oleh karena itulah, aku mengatakan jangan menatap bumi karena itu berarti kalian terperangkap dalam masa lalu. Merasa sedih akan apa yang sudah terjadi dan tidak berusaha untuk melihat ke depan, ke arah kehidupan yang ingin kalian tuju. Sikapi kegagalan dengan lapang dada dan jadikan sebagai pedoman dalam menggapai langit.

Ada representasi lain dari filosofi ini. Yaitu, bahwa kita harus menaap ke depan. Kita harus memiliki mimpi. Jangan puas dengan apa yang sudah kita miliki sekarang. Karena dengan begitulah kita dapat terus maju. Tapi ingatlah, bahwa majulah menuju langit dengan berpijak pada bumi dengan kaki sendiri, bukan berpijak pada orang lain atau menggunakan sumber daya orang lain. Artinya, capailah impian dengan kekuatan sendiri, bukan dengan mangambil hak orang lain.

Sekali lagi langit dimulai dari permukaan bumi, sehingga impian atau tujuan yang dicapai pun juga tidak harus tinggi. Tapi, jika kita representasikan dengan langit, jika dimulai dari bumi, maka ujungnya adalah langit yang tak terbatas. Dengan kata lain, impian pun tak terbatas. Kalian bisa memimpikan sesuatu yang tidak terbatas yang membiarkan kalian untuk maju dan berusaha menggapainya. Jangan terus-terusan melihat bumi karena itu berarti kalian puas dengan apa yang kalian peroleh dan berhenti bermimpi.

Aku ingin menjelaskan bahwa filosofi ini tidak berkaitan dengan status sosial. Bumi bukanlah representasi dari kaum miskin dan langit sebagai representasi dari orang kaya. Filosofi ini hanya menunjukkan sebuah visi, visi untuk mengembangkan diri kalian.

Aku menyebut filosofi ini sebagai A Vision to the Sky, sebuah pandangan ke angkasa. Aku ingin mengatakan bahwa kita haruslah memiliki sebuah visi yang menentukan arah kehidupan kita. Sebuah visi untuk mengembangkan diri kita dan segala yang berada di sekeliling kita. Selalulah menatap ke arah langit, walaupun kalian jatuh sampai ke bumi. Jangan berhenti bermimpi, karena mimpilah yang membangun peradaban manusia.

Visi ini kukembangkan untuk memberikan nilai tambah pada filosofi yang kubuat: A Vision to Create, A World to Generate yang kutuliskan dalam blogku yang lain di Windows Space. Mungkin di postku yang berikutnya akan kujelaskan mengenai visi dasar ini.

Sebelum kututup, ingin kutuliskan sekali lagi pernyataan ini:

Always look up to the sky, even when you are down to earth!!

Smile eternally,
Wirapati

What You Want to and What You Have to...

It's been a long time since I begin to dream about it. One year? Or maybe more. Yeah, I kept it for the time beyond your imagination. But, really, maybe I have to walk out from this one. I have to accept that this condition forced me to give in.

Bagaimanakah jika kalian memiliki sebuah keinginan, keinginan yang sangatlah kuat, dapat dikatakan sebagai sebuah impian, dan ternyata, kondisi mendorong kalian untuk meninggalkannya. Pasti menyakitkan bukan? Apalagi jika penantian yang kalian lakukan memakan waktu lama untuk kalian "make a move".

Impian memang menentukan jalan hidup seseorang. Berdasarkan impian itulah selama ini gw bertindak, berpikir dan berbicara. Bahkan, di saat tidur gw memikirkan impian ini. Impian ini menjadi bagian dalam hidup gw dan telah memberikan banyak kebijaksanaan dalam diri gw.

Tapi, gw pun harus sadar. Seperti apa yang telah gw diskusikan selama ini dengan partner gw, The Dusk, sebuah impian terkadang harus menghadapi kenyataan di mana impian tersebut tidak tercapai. Ada sebuah energi yang mungkin tidak bisa dibelokkan seperti Sinar Gamma dan bersifat kebalikan dari gravitasi, yaitu permainan nasib yang mungkin akan menjauhkan mimpi itu dari diri kita. Ya, terkadang nasib tak bisa digerakkan seperti radio kontrol tanpa baterai di remotenya, sehingga sekeras apapun kita berusaha memijit tombolnya, radio kontrol itu takkan bergerak seperti yang kita mau.

Hanya dua hal yang dapat kita lakukan pada saat seperti ini. Berjiwa besar dan memandang ke depan. Berjiwa besar akan membuat kalian tidak kecewa pada apa yang terjadi pada diri kalian. Berpikirlah positif bahwa kita sudah berusaha, hanya saja ada energi absolut sebesar 0,1% yang memgang peranan penting dalam hidup kita yang mengubah segalanya. Jangan biarkan kegagalan ini menguasai pikiran kita terlalu lama.

Memandang ke depan membiarkan kalian untuk terus berjalan walaupun badai menerpa kalian. Walaupun impian kalian tidak tercapai, tidak berarti petualangan kalian berakhir begitu saja. Kalian masih dapat melakukan sesuatu yang lain untuk menggantikan mimpi kalian, sesuatu yang tidak kalah substansial dibandingkan mimpi kalian tersebut. Selalu ada yang bisa kalian lakukan. Kalian hanya perlu menyadarinya.

Well, walaupun gw berkata 'kalian' semenjak tadi, sebenarnya kata-kata tersebut lebih pantas ditujukan kepada gw sendiri. Ya. Gw harus meninggalkan impian gw itu. Gw harus berhati besar bahwa permainan nasib telah membimbing gw untuk meninggalkan impian itu. Gw harus terus memandang ke depan, mencari jawaban atas keputusan yang nasib berikan pada gw. Gw harus menciptakan equilibrium baru untuk diri gw dan lingkungan gw yang terkait.Pasti ada yang bisa gw lakukan.

Have no fear for giving in. Yeah, that's what I'll do. I will accept my failure. I have no fear to giving it over. Yet, my passion will never die.

Beberapa dari kalian tahu mengenai mimpi tersebut, beberapa lainnya tidak tahu. Ya. Gw memang menyimpannya hanya kepada segelintir orang saja di sekitar gw. Gw sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung gw selama ini, memberikan semangat dan dorongan. Tetapi, gw harus menerima kenyataan ini. Gw ingat perkataan seorang dosen yang membuat gw memutuskan pilihan ini:

"Sometimes, we need to leave what we WANT for a while, before we complete what we HAVE to do"

Gw akan mencari jawabannya, equilibrium baru atas kehidupan gw, atas mimpi-mimpi gw. And for those who make me stand up until now, please support me again once again, and again, and again. Thank you very much for everything.

Time to Look Forward and Do Something!

Selasa, 10 Juni 2008, Hari Pertama SP...

Huaahh.. Akhirnya Semester Pendek tiba. Sudah lama sekali sejak semester pendek terakhir. Ya, jelas. Itu setahun yang lalu. Tapi, seperti yang gw pernah bilang, "Waktu itu terasa panjang sekali saat kau memulainya dan menjalaninya, tetapi terasa pendek sekali saat kau melihatnya kembali". Waktu itu gw sudah melihat ke belakang untuk mengevaluasi diri gw. Saat ini, gw akan akan melihat ke depan dan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti di titik perhentian itu.

Hmm.. Belum banyak yang bisa diceritakan selain gw sudah memulai kuliah dengan gemilang di mata kuliah Manajemen Pemasaran dan Akuntansi Bangs... eh, salah, Akuntansi Biad.. BIAYA! Oke! Wuih, tidak ada mata kuliah ilmu ekonomi yang gw ambil. Prediksi dari seorang temanku, Nimas, bisa2 setelah semester pendek ini kami akan melupakan yang namanya kurva. bahkan kami lupa yang mana sumbu axis (x) dan yang yang mana sumbu ordinat (y). Tapi, ya sudahlah. Itulah takdir. Mungkin ada baiknya juga mengistirahatkan diri dari segala kepenatan ilmu ekonomi dan waduh tampaknya gw salah bicara karena gw akan menghadapi kepenatan absolut dari akuntansi. Tapi, bukan brarti gw akan menyerah. Rintangan ini pasti bisa gw lalui. Look Forward!

Itulah mengenai hari pertama di SP gw. Dan saatnya untuk kembali berpikir mengenai kondisi negara ini.

Sudah cukup lama gw tinggakan omongan serius seperti ini karena gw sudah cukup muak dengan topik-topik tersebut, terutama topik mengenai mahasiswa. Tapi, mungkin akan gw bahas sedikit mengenai mahasiswa kali ini. Tapi, yang ingin gw bicarakan pertama kali adalah topik kenaikan harga BBM.

Tampaknya topik kenaikan harga BBM masih menghantui hampir seluruh lapisan masyarakat dan tampaknya tak akan reda dalam beberapa waktu. Memang kenaikan harga BBM ini merupakan structural shock yang luar biasa karena memberikan efek terhadap semua sektor mulai dari produksi hingga konsumsi, mulai dari orang kaya hingga orang miskin.

Tentu saja, dalam beberapa minggu ini, Indonesia diwarnai oleh demonstrasi-demonstrasi menentang kenaikan harga BBM yang saat ini mulai berkurang karena beberapa isu, contohnya adalah konflik FPI dan AKKBB yang katanya adalah manuver politik pemerintah untuk mengalihkan pandangan masyarakat dari kenaikan harga BBM (Gw tidak mau mengatakan apakah tentang manuver politik ini benar, tetapi harus diakui bahwa efeknya telah meredam demo kenaikan harga BBM). Akan tetapi, pembicaraan mengenai kenaikan harga BBM ini masih tetap menjamur dalam forum-forum atau diskusi-diskusi dalam masyarakat.

Mari kita lihat dari dua sisi. Rakyat miskin akan sangat menderita melalui kenaikan harga BBM ini karena mungkin mereka akan kesulitan untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. sudah tentu rakyat pasti akan meminta untuk menurunkan kembali harga BBM untuk dapat tetap hidup, dan itulah asal mula munculnya demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Sementara itu, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM demi menjaga APBN agar tidak jebol di mana jika hal itu terjadi, maka kita tidak akan melihat nama Indonesia lagi di peta dunia.


Pemerintah harus memikirkan kepentingan rakyat dan rakyat tidak perlu memikirkan kesulitan pemerintah. Memang itulah kodratnya. Bagi rakyat, terutama rakyat miskin, tidak peduli negara ini hancur, selama mereka bisa makan. Tapi, pemerintah punya ewajiban untuk mempertahankan keutuhan negara ini. Sehingga, perdebatan akan terjadi terus di mana kedua belah pihak akan terus berargumen mempertahankan pendapatnya.

Perdebatan tidak akan selesai. Karena tidak akan ada yang mau mengalah. Semua punya alasan, dan lebih luar biasanya lagi, alasan tersebut logis dan jelas dapat diterima, tetapi tidak bersamaan. Karena itu, gw perkirakan bahwa perdebatan ini akan terus berlangsung tanpa ada akhirnya jika dilanjutkan. Apakah kita mau terus-terusan seperti ini? Gw adalah salah seorang yang mendapatkan imbas dari kenaikan harga BBM ini. Dan gw memutuskan untuk tidak terus terperangkap dalam jebakan perdebatan kenaikan harga BBM ini.

Bagi gw, saatnya untuk melihat ke depan, dan berusaha memikirkan bagaimana melalui semua ini dengan baik, bukannya menyesali apa yang telah terjadi dan berusaha keras mengubahnya. Masih banyak yang harus dipikirkan selain kenaikan harga BBM. Jika kita terlalu preoccupied terhadap kenaikan harga BBM ini, maka kita tidak akan pernah maju dan akan terus berada pada titik ini. Look Forward!

Kemudian, mengenai mahasiswa. Baru saja gw melihat Apa Kabar Indonesia? di TVOne. Di dalamnya sedang dibahas mengenai demonstrasi dan gerakan mahasiswa. Kemudian gw melihat sebuah kenyataan pahit yang benar-benar menusuk-nusuk diri gw.

18% dari mahasiswa yang berdemonstrasi adalah karena mendapat uang.

Itulah yang diutarakan oleh polling yang ada di dalam acara tersebut. Rasanya hati gw tersayat-sayat. Kenyataan ini benar-benar mengerikan. Mahasiswa yang katanya adalah pembawa amanat rakyat, ternyata berdemonstrasi karena uang. 18% memang adalah jumlah yang kecil, tetapi, berarti di antara kita, para mahasiswa yang berdemonstrasi, ada pihak-pihak yang mau saja melakukan hal ini karena uang. Di manakah harga diri kalian? Apa kata orang jika mahasiswa mampu dibeli oleh uang., sementara di masa depan merekalah yang akan memegang tampuk kekuasaan negeri ini. Bagaimana jika nantinya mereka menjadi pemerintah?

Sudah lama gw berpikir bahwa tidak semua mahasiswa yang turun ke jalan adalah pembela kebenaran. Pasti di antara mereka ada orang-orang yang bergerak karena ada yang menggerakkan mereka dari belakang. Kita tidak boleh naif terhadap hal ini. Mereka yang turun ke jalan mungkin adalah pembela kebenaran, tetapi belum tentu apa yang menggerakkan mereka adalah pembela kebenaran. Kita harus lebih kritis dalam menanggapi hal ini.

Sebenarnya gw sudah muak dalam membicarakan hal ini. dan karena itulah sudah sekitar 2 minggu gw tinggalkan pembicaraan mengenai mahasiswa karena gw lelah melihat semua seperti itu. Sebenarnya percuma bagi gw menuliskan hal ini, mengumpat-umpat, mengkritik dan lain sebagainya. Tak akan merubah apa-apa.

Saatnya untuk melakukan tindakan nyata. Jangan cuma menyuarakan kekesalan kita di depan layar televisi di rumah kita saja. Gw akan melakuakn tindakan nyata dalam menyikapi semua ini karena gw lelah dengan semua ini. Hanya saja, gw tidak punya kekuatan yang cukup besar untuk hal tersebut. Karena itu, yang bisa gw lakukan adalah melakukan yang bisa gw lakukan sebaik-baiknya. Look Forward!

It's time for us to look forward. We must not be trapped in the cage of yesterday. Try to do something. The only thing that you can do now is do something that you can do. If you ask me what you can do now, I must answer that only you know what you can do.

Smile Eternally,
Wirapati...

Dreams at the distant

Selasa, 22 April 2008, Road to Economix...

Sudah satu tahun penuh lamanya gw tunggu momen ini.

Satu tahun yang lalu, gw mengikuti sebuah acara yang menurut gw telah banyak memberikan pelajaran. Sebuah acara yang membentuk gw menjadi gw yang sekarang ini dan memotivasi gw untuk terus mengembangkan diri.

Acara itu bernama Economix!!

Saat gw menyelesaikan kegiatan Economix itu sebagai staff acara, gw memiliki sebuah mimpi yang membuat gw selalu berdebar2 saat gw mengingatnya. Gw berangan2 bahwa suatu hari nanti, jika tiba saatnya, gw ingin membuat ECONOMIX terhebat sepanjang masa. Membuat ECONOMIX menjadi sebuah persembahan dari gw dan temen2 gw kepada KANOPI, IE, FEUI, UI dan Indonesia, serta jika dimungkinkan kepada dunia.

Satu tahun gw jalankan, menanti datangnya hari itu. And here we are. It is right in front of us, friends. Inilah saatnya. menunjukkan kesungguhan kita semua. Membuat sebuah acara paling spektakuler. Mewujudkan mimpi2 kita masing2.

The Journey Begin!

Hmm.. Dari sejak bbrp bulan yang lalu, gw uda punya banyak pemikiran dalam kepala gw. Impian2 gw mengenai bagaimana membuat Economix jadi acara yang gedhe banget.

Gw punya impian untuk mengundang pembicara yang luar biasa. Dan yang saat ini terukir di kepala gw adalah mengundanga seorang pemenang Nobel Ekonomi!!! You know who? Everybody knows his name. The name is...

Joseph E. Stiglitz

Yup! The Nobel Laurate in Economics with the idea of Assymetric Information. The writer of Glabalization and Its Discontents, and Making Globalization Works. The author of recently published Three Trillion Dollars War: The True Cost of Iraq War.

Yes! That Stiglitz!

When I ask about how much the cost of inviting Stiglitz, I got a bad news. It is about 60.000 dollars or 600 JUTA!!!!

Tapi, itu gak melunturkan semangat gw buat mengundang dia! Gw tetep yakin walaupun kita mahasiswa, kita capable untuk membuat sebuah acara besar untuk mengundang dia. Kita pasti bisa. Kenapa harus takut dengan perubahan? Ini adalah sebuah revolusi. Dan gw yakin, ini revolusi yang luar biasa baik untuk semuanya.

Salah seorang teman gw, yang menjadi tim gw, sempat mentertawakan gw dengan impian gw ini walaupun akhirnya dia setuju. Tapi gw yakin masih ada ragu di dalam hatinya. Hmm.. Gw gak sakit hati. Sangat rasional kalau dia mentertawakan gw.

Tapi gw tetep yakin dengan pendirian gw ini. Gw yakin itu bisa diraih. Seperti kata sebuah perusahaan peralatan olah raga, IMPOSSIBLE IS NOTHING. Betul sekali. Kenapa kita harus takut dengan impossible. Bukankah dulu orang juga mengatakan kalo terbang itu mustahil. Tapi nyatanya apa? Saat ini puluhan ribu ato lebih manusia mengarungi langit biru yang luas.

Somewhere place at the distant, so far away that you could laugh, there lies a never ending dreams that shines bright.

Mimpi itu memang terlihat sangat jauh, sangat juah sampai kalian bisa tertawa mendengarnya. Tapi, sejauh apapun sebuah mimpi, mimpi itu akan terus bersinar terang sehingga dapat dilihat oleh kita semua.

Believe in one's dream, and one day, it will be realized.

Jangan tertawakan mimpi seseorang semustahil apapun. Tertawakanlah mimpi seseorang yang tidak berusaha untuk mencapai mimpi itu. Tapi, jangan tertawakan seseorang yang determined dan berusaha menggapai mimpi itu. Karena, lahirnya pesawat adalah karena kemauan keras dan usaha yang tak kenal lelah.

Why don't we try? COz, impossible is nothing!

Kemudian beberapa menit sebelum posting ini dipublish, gw bercakap2 dengan seoang sahabat gw yang akan menjadi koor dana di tim gw dalam YM.

[21:36] royben_studdard: Eh2..
[21:36] k06_ulay: hm?
[21:36] royben_studdard: Lay gw pny pertanyaan yg menentukan segalanya..
[21:36] royben_studdard: Deep inside your heart..
[21:36] royben_studdard: Yakin gak bisa dapet 700juta..
[21:36] k06_ulay: hmmm
[21:36] royben_studdard: In case kita fixed manggil stiglitz..
[21:36] royben_studdard: ato pemenang nobel lainnya..
[21:36] k06_ulay: 95%
[21:37] royben_studdard: you sure?
[21:37] k06_ulay: kan lo bantuin jg
[21:37] royben_studdard: pastinya..
[21:37] royben_studdard: Tapi sebagai calon koor dana lw merasa bisa kan?
[21:39] k06_ulay: hohoho
[21:40] royben_studdard: Bener ya?
[21:40] k06_ulay: banyak yang bantuin
[21:41] k06_ulay: gw jadi posotive thinking
[21:44] royben_studdard: Sip!
[21:45] royben_studdard: Klo lw yakin, gw percaya.
[21:45] royben_studdard: Brarti gw tetep akan mencoba mengundang 'dia'
[21:45] royben_studdard: I believe in you...

Gw percaya sama dia. Dan gw semakin tangguh untuk untuk mewujudkannya.

Gw membutuhkan bantuan kalian semua. Ayo kita buat kehidupan kamps ini lebih menarik. Buat apa kita membuat acara yg biasa saja. Buatlah acara itu menjadi unforgettable, baik untuk peserta, pembicara, maupun panitianya!

Ini bukan mimpi akhir gw. Tapi sebagai sebuah mimpi, gw akan mewujudkannya.

Smile eternally,
Wirapati..