An Albatross

Among all of the birds in the world, what is your favorite bird?

Lots of people will answer eagle or any other mighty birds. But, I come up with a different answer and it might be such a rare answer since this bird might don't have what it takes to become such a favorite bird.

My favorite bird is an Albatross. Though they are not in the same class with an eagle, they are often addressed as Sea Eagle, because they live near the sea. They have the widest wings among all of the birds ever exist and fly awkwardly by going upside down as if they are unstable during the flight.

Well, not as mighty as an eagle, are they? Then how come I favor this bird very much? It is simply because they have a very deep philosophy inside them, and they reflect myself so much in many ways.

Do you know that unlike any other birds, Albatross cannot fly simply just stomping their claws on the ground? Albatrosses have a unique way of taking off. Instead of a hard stomping on the surface below them, they run (not really running, it's like small jumps as if they are running) over the surface to find the perfect stance for taking off and then put all of their efforts to fly. Yes, they are not able to fly easily like any other birds. They need more efforts to fly, and they even have to jump from a cliff, falling in the open air for sometimes and hover while flapping their wings to capture the wind and then fly to the open sky.

That is just like me. If the other birds represent the other people, I am just an albatross. I cannot easily fly simply by doing my best on something. Just like an albatross, to fly, I need to run until I am able to take off, that is because I am not that extraordinary. I am just a regular person, which has to put my efforts more than anybody else to reach approximately the same with them. It might be not enough to put my best on something, I must exceed my best efforts to surpass everybody else, to become number one.

That is why I adore this bird so much. They are trying their best to fly, so why don't I? Just like I said, they have the widest wings over all birds, but they will never acknowledge that if they did not even try flying. That is why, I always try my best to fly, to see how broad my wings, to see how far I can reach, and how limitless I must surpass.

Albatross will be my favorite bird forever. I never adore someone who is genius from the beginning, simply because they were born genius. I adore those who achieve genius, through hard works and passions. They try to surpass their disadvantages and limitations to achieve the unlimited because they overcome every hardness they face in the process. That is more inspiring, isn't it. It shows you how you must not give up on fate and condition, fight it and achieve your goal regardless of your inability. We should learn from an albatross in this case.

Everything in this world is not that simple. You cannot fly easily by stomping your feet on the ground and flap your arms. Never give up on it, if you really want to fly. Be an Albatross and show the world how strong you are to reach the top.

Dream On!
Wirapati

Responsibility over Priority

Today's a great day. Been a while I haven't met my "Little Fellas" from my High School life and probably it's the first reunion for over a year. Glad they does not change at all. They are still my beloved Little Fellas from the past.

However, that is not what I'm about to tell now. I'll save the story for them later. There is one interesting thing that I remember today in my reunion today. In our reunion today at my friend's house, there was a man who wanted to study about acceleration program student came for interviewing us. There is a very interesting question he gave which reminds me of my important value of life.

What value did your parents mainly build inside yourselves?

This is an easy, yet deep question. Right after he threw that question, spontaneously I remember one thing that has always been my principle, right from the beginning. It is Responsibility.

Yes, my father keeps on telling me up until today, that I must always be responsible on what I do and to whoever whom I responsible to. I have a different point of view about being responsible and that was what determines my every action up until now and will always be in the future.

You might remember that in every organization or institution recruitment interview, you are going to be asked: What is your priorities in life? While people might answer their priorities from the highest to the lowest, I emerge with different answer.

I believe in responsibility over than priority. I do have any priorities for my responsibilities. I am responsible for every responsibility regardless on how important they are.

That has always been my answer even for my recent job recruitment interview. In simple, developed from Stephen Covey's, I do not prioritize responsibility, I put my responsibility on my priorities.

This is what always keep me standing in my every hard time during my acceleration program back in high school. It kept me strong and provided me with endless motivations, to be responsible to my parents who provide me with every facilities so that I can go to school and study.

Also, this is what kept me strong when I was on deadline during my undergrad thesis back in my college life. I am doing my research seriously, putting all of my efforts to finish my undergrad thesis and graduates in seven semesters, just like what my parents' expectations. Even though I was very busy with my organization, I did not just leave this responsibility with my parents, nor to my organization. That is why, whenever I found two importances intersect in the process, I was doing my best to fulfill both of them without even considering about the priorities, merely because I am responsible for both of them.

If we do it wrong, we might overheat ourselves. That is why we must measure our capacity on how much responsibility we can take. But, once you hold the responsibility, never turn down it for other responsibility. Because, responsibility is something that we must accomplish, regardless on how important they are.

Never forget on your responsibility, because that reflects your honor as a human.

Dream on!
Wirapati

Loser, again...

Telah banyak sekali kucoba taklukkan. Untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi yang terhebat. Tetapi, belum sekalipun aku berhasil mencapai puncak. Belum pernah aku mengecap nikmatnya kemenangan, memperoleh posisi teratas dan melambungkan tanganku tinggi-tinggi untuk menunjukkan kebahagiaanku.

Ya, lagi-lagi aku kalah...

Dengan penuh kepercayaan diri, aku mengirimkan paperku, yang kukerjakan dengan segala kreativitas yang aku miliki, dengan segala usaha yang bisa kuberikan. Aku merasa percaya diri, bahwa ini adalah masterpiece-ku. Aku berusaha menyajikan sesuatu yang baru, sesuatu yang orisinil. Tetapi, apa daya, aku tidak bisa menembus dinding tebal World Bank Essay Competition. Aku tidak berhasil memperoleh hak untuk bersaing memperebutkan posisi puncak dalam lomba itu bersama para Delapan Besar dunia.

Aku tidak kecewa sama sekali. Karena ternyata walau tidak menjadi finalis, tetapi aku tetap berhasil mencapai posisi 20 besar dunia. Aku berhasil menjadi 1% dalam pertandingan ini, menjadi 20 besar dari 2009 peserta dari 150 negara. Bukan sesuatu yang paling dibanggakan, tetapi aku bangga karena satu hal.

Aku bangga karena aku bisa memaparkan original idea-ku. Sebuah konsep yang kubangun secara susah payah, dengan bantuan Ayahku. Aku bahagia karena ide yang berasal dari diriku sendiri ini, diakui sebagai 20 besar dunia. Baru beberapa hari ini aku menulis posting tentang idolaku, John Nash, yang bersikukuh mencari original idea, dan tiba-tiba aku memperoleh kabar bahagia ini.

Aku selangkah lebih dekat dengan pahlawanku.

Aku akan berusaha lebih banyak lagi. Tahun depan aku akan mengikutinya lagi, dan akan kuraih kemenangan tahun depan. Aku akan terus mengembangkan original idea-ku, sampai suatu hari nanti, aku berhasil membuat ideku mengenai pengentasan kemiskinan diakui oleh dunia. Mimpiku sangat sederhana, tetapi sulit dicapai. Aku masih seorang pecundang, dan akan tetap menjadi pecundang sampai aku berhasil membuktikan diriku. Terkadang tidak terlalu buruk menjadi pecundang, karena kita bisa bebas mengekspresikan ide kita tanpa beban sebuah gelar, dan dapat terus belajar dari kekalahan kita. Tentunya, aku juga ingin menjadi pemenang, tetapi mungkin belum saatnya.

Maybe, Someday I'll win..
Wirapati

John F. Nash: Our Own Original Idea

Find a truly original idea. It is the only way I will ever distinguish myself. It is the only way I will ever matter. -John Forbes Nash, A Beautiful Mind-

Kali ini aku ingin berbicara mengenai orang-orang selain ayahku yang menjadi inspirasi utama dalam hidupku. Orang-orang inilah yang kujadikan pandangan hidup, kuambil bagian dari mereka yang baik dan kuevaluasi yang buruk.

Waktu sudah berjalan sekitar 10 tahun semenjak aku mengenal seorang jenius yang merupakan pemenang Nobel untuk bidang ekonomi yang bernama John Nash. Kisah tentang hidupnya telah dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, yaitu A Beautiful Mind. Keduanya mengisahkan tentang Nash yang berusaha untuk mengalahkan ilusi dalam dirinya sendiri akibat penyakit kejiawaan yang bernama Schyzophrenic, yang membuat dirinya berhalusinasi dan tidak dapat membedakan mana kenyataan dan mana ilusi. Film ini ditutup dengan mengharukan dengan sebuah pidato inspirasional Nash saat dirinya memenangkan Nobel bidang ekonomi.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya ada hal lain yang membuatku menjadikannya inspirasi.Bukan sekedar karena keteguhannya dalam menghadapi schyzophrenic, atau pencapaiannya dalam penghargaan Nobel. Aku menjadikannya inspirasiku karena kegigihannya untuk menemukan ide orisinilnya sendiri. Aku tidak pernah tahu seperti apa perjuangannya sesungguhnya karena hanya mengetahuinya dari buku dan film. Tetapi, setidaknya aku percaya bahwa kenyataannya tidak sejauh itu.

Pada masa mudahnya, Nash sempat dilecehkan oleh teman-temannya karena perkembangannya yang lambat dalam menyelesaikan disertasi. Sementara teman-temannya sudah menyelesaikan tugasnya masing-masing, Nash masih belum membuatnya sama sekali. Jika ditanya oleh teman-teman maupun profesornya, Nash selalu menjawab bahwa dia sedang mencari ide orisinilnya sendiri. Dia tidak mau seperti teman-temannya yang hanya mengembangkan atau mereplikasi penelitian-penelitian terdahulu. Memang sangat sulit dan penuh perjuangan, tetapi akhirnya Nash berhasil membuktikan bahwa penelitiannya mengenai Cooperative Game Theory, yang merupakan sanggahan terhadap teori individualis Adam Smith. Teorinya inilah yang pada akhirnya membuatnya berbagi penghargaan Nobel bidang ekonomi dengan John Harsanyi dan Reinhard Selten.

Aku sangat menyukai pribadinya yang terus mengejar ide orisinilnya. Aku selalu percaya bahwa dalam menyampaikan sebuah ide, aku harus berpegang teguh kepada dua buah prinsip dasar: Minat dan Orisinalitas. Aku adalah tipe orang yang tidak begitu menyukai replikasi terhadap model-model terdahulu, dan lebih memilih untuk membuat modelku sendiri dalam setiap penelitianku. Hal ini disebabkan karena aku ingin menguak lebih banyak misteri dibandingkan para pendahuluku. Aku ingin mendapatkan sesuatu yang belum pernah dipikirkan orang lain, tetapi aku pernah memikirkannya. Aku ingin menjadi yang pertama, karena orang akan mengingat para first mover. Tetapi lebih dari itu, aku selalu merasa puas saat bisa menyampaikan gagasanku yang orisinil dan diakui orang lain, sebab itu menunjukkan seberapa jauh pola pikirku telah berkembang, dan aku percaya bahwa tidak ada batas pada pikiran manusia untuk berimajinasi dan bermimpi.

Nash telah menunjukkanku hal ini, betapa mengembangkan sebuah pemikiran dan gagasan yang orisinil adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup, sesuatu yang membuat kita diakui, dan sesuatu yang memberikan makna dalam hidup kita. Karena itulah, pada saat aku menulis skripsi, aku tetap teguh untuk memajukan topik skripsiku yang dianggap absurd bahkan oleh Prof. Ali Wardhana yang merupakan rekan kerja dari orang yang menjadi inspirasiku yang lain, yaitu Prof. Widjojo Nitisastro (mungkin akan kuceritakan pada bahasan berikutnya). Tidak hanya beliau, banyak orang yang mentertawakan gagasanku ini. Tetapi, aku tetap menulis skripsiku ini dengan bermodalkan keyakinan saja. Pada akhirnya, aku berhasil lulus dengan menggunakan skripsiku yang dianggap absurd ini. Memang aku belum menjadi John Nash yang disertasinya sangat diakui bahkan memberikan penghargaan Nobel padanya, tetapi aku akan mengembangkannya lagi di masa depan saat aku sudah menguasai lebih banyak ilmu lagi.

Nash juga telah membuatku ingin mengejar Princeton University sebagai tujuan universitasku di masa depan. Aku ingin bersekolah di universitas yang pernah menelurkan pahlawanku ini. Aku ingin mendapatkan ilmu yang sama, belajar dari lingkungan yang sama, serta mengejar tujuan yang sama dengannya. Dengan segala persamaan itu, aku akan membuktikan bahwa aku bisa melampauinya suatu hari nanti, dengan gagasan orisinilku sendiri. Salah satu impian besarku dalam hidup ini adalah mengembangkan teori untuk mengentaskan kemiskinan yang diakui oleh masyarakat dunia, teori orisinilku sendiri.

Perhaps it is good to have a beautiful mind, but an even greater gift is to discover a beautiful heart.
Quoted from John F. Nash
Wirapati

The Glass, The Content and The Philosophy

Hari ini aku mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dari Workshop Training mengenai System Dynamic dari Bank Indonesia. Pelajaran tersebut mencakup pengetahuan dan kemampuan mengaplikasikan System Dynamic, serta sebuah filosofi besar dalam mempelajari sesuatu.

Sebelumnya mari aku berikan sedikit gambaran umum mengenai pengetahuan yang aku peroleh hari ini. System Dynamic merupakan salah satu dari metode estimasi forecasting untuk data statistika yang sejenis dengan ekonometri. Tetapi, patut diperhatikan bahwa System Dynamic bukanlah bagian dari Ekonometrika, melainkan sebuah disiplin ilmu yang berbeda dalam statistika. Bahkan, hingga saat ini, para ahli Ekonometrika yang mengunggulkan bukti empiris secara matematis masih sering berdebat hebat dengan para ahli System Dynamic yang mengunggulkan bukti autentik kualitatif. Perdebatan ini tidak kalah hebatnya dengan perdebatan antara mazhab Liberalisme dan mazhab Sosialisme, sehingga menjadikan keduanya sebagai instrumen yang terpisah secara metodologi.

Dalam pelatihan hari ini, aku memperhatikan bahwa banyak di antara para peserta di Bank Indonesia, tepatnya di PPSK, yang sangat terbiasa menggunakan ekonometrika, seringkali bertanya pada fasilitator mengenai modelling, sistem persamaan, dan hal-hal yang biasa ditemukan pada ekonometrika. Hal ini cukup menghambat workshop karena para peserta lebih terbiasa dengan ekonometrika yang penuh kuantifikasi dan estimasi, sementara System Dynamic lebih menekankan pada Actual Condition Mimicry. Karena itulah workshop kali ini selesai lebih lama karena pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi dari para peserta.

Dari sini, aku mendapatkan sebuah filosofi yang sangat penting, terutama dalam belajar. Yaitu adalah untuk memperhatikan isi kepala kita saat mempelajari sesuatu. Pertama-tama aku akan memberikan sebuah ilustrasi. Seorang pendekar kungfu umumnya menjadi terkenal karena mempelajari beberapa aliran kungfu dan memodifikasinya menjadi alirannya sendiri yang dirasa unggul karena menyerap keunggulan-keunggulan ilmu beladiri lainnya dan membuang kelemahannya, sehingga teramu menjadi sebuah ilmu yang dianggap sempurna. Tetapi, tahukah kalian bahwa untuk mempelajari sebuah kungfu baru, seorang pendekar kungfu harus menghancurkan semua ilmu kungfu lamanya, serta kebiasaan-kebiasaan dalam ilmu kungfu lamanya?

Misal, seorang ahli kungfu ingin menggabungkan aliran keras pada Baji Quan ato Shaolin dengan aliran lembut pada Hakkesho atau Taichi. Baji Quan dan Shaolin yang mengutamakan pada serangan mematikan pada satu serangan pertama memiliki ciri khas yaitu hentakan kaki yang keras untuk menyalurkan berat badan menjadi kekuatan serangan. Sementara Hakkesho dan Taichi yang mengutamakan pada serangan dan pertahanan yang mengalir seperti air memiliki ciri khas hentakan-hentakan lembut berirama. Jika seorang ahli Baji Quan mencoba menguasai ilmu Taichi atau Hakkesho, tanpa melupakan kebiasaannya menghentakkan kaki, maka tidak satu pun ilmu lembut tersebut dapat diserapnya. Bahkan, malah bisa merusak keseimbangan kungfu lamanya.

Untuk itu, sang ahli Baji Quan harus meninggalkan kungfu lamanya dan mulai mempelajari ilmu barunya. Meninggalkan tidak berarti melupakannya sama sekali. Saat seseorang sudah mahir dalam melakukan sesuatu, dalam kondisi lupa sekalipun, tubuh atau ingatan mereka masih mengingat segala kemampuan yang dapat mereka lakukan sebelumnya. Bahkan, dapat disempurnakan oleh ilmu barunya yang telah diserapnya dan terasimilasi dengan baik.

Itulah kunci mempelajari sebuah ilmu baru: Seraplah ilmu baru tersebut tanpa mencampuradukkannya dengan ilmu lama.

Ibarat sebuah gelas yang berisi cairan, kita bisa memasukkan gelas tersebut dengan cairan apapun. Tetapi, saat kita ingin memasukkan cairan baru ke dalam gelas tersebut, perhatikanlah karakteristik dari cairan tersebut. Jika kita ingin memasukkan kopi ke dalam sebuah gelas, jangan kalian campurkan dengan fanta yang mungkin akan merusak rasa kopi tersebut. Jika kita ingin memasukkan fanta ke dalam kopi tersebut, maka kita sebaiknya membuang kopi tersebut dulu baru memasukkan fanta ke dalamnya. Sehingga rasa dari fanta tidak akan terlalu bercampur dengan kopi. Semakin kental sebuah cairan, semakin menempel dia dengan dinding gelas. Sehingga, tidak akan lekang begitu saja saat dibuang. Lain halnya jika kita ingin memasukkan susu ke dalamnya, maka akan tercipta kopi susu yang nikmat. Sehingga, kita tak perlu membuang kopi tersebut.

Hal ini sama dengan perilaku kita dalam belajar. Saat seseorang sudah piawai dalam mempelajari sesuatu dan mencoba mempelajari sesuatu yang berseberangan dengan disiplin ilmunya saat ini, maka dia harus meninggalkan ilmu lamanya terlebih dahulu untuk menyerap ilmu barunya. Jika kita tidak berusaha meninggalkannya, kita akan terus-menerus melontarkan pertanyaan seperti para peserta tersebut, di mana pasti akan menghalangi kita untuk belajar karena perasaan konservatif yang berkecamuk dalam pikiran kita akibat disiplin ilmu lama kita. Akan tetapi, saat sebuah ilmu baru akan melengkapi ilmu lamanya, tak perlu kita lupakan, justru ilmu lama kita tersebut harus diaplikasinya dalam mempelajari hal baru tersebut.

Sebuah ilmu tak bisa dipelajari jika kita tidak membuka pikiran dan diri kita sebesar-besarnya. Jika kita selalu merasa konservatif terhadap disiplin ilmu lama kita. Gelas yang penuh dengan berbagai macam cairan tersebut akan menimbulkan rasa yang aneh, sehingga tidak dapat diminum. Pikiran yang dicampuradukkan dalam mempelajari sesuatu hanya akan merusak disiplin ilmu lama, tanpa menyerap ilmu baru tersebut.

Ilmu itu luas kawan. Tak setiap ilmu mendukung ilmu lainnya. Tetapi, ilmu yang berlawanan sekalipun, jika kita ambil baiknya dan buang buruknya, bisa jadi sebuah disiplin ilmu yang lebih baik. Jangan takut untuk mempelajari hal baru yang berlawanan dengan ilmu lama kita, dan jangan takut untuk meninggalkan ilmu lama kita sejenak, karena mereka takkan hilang begitu saja jika kita memang telah menguasainya. Ini juga sebuah pelajaran bahwa jangan menyebrang disiplin ilmu dulu jika kita belum benar-benar menguasai disiplin ilmu lama kita tersebut. Dengan demikian, kita bisa terus mengembangkan diri kita secara tak terbatas.

Fear not!
Wirapati

How I Like A Job Like This!!!

Memang ini adalah keputusan yang menurut orang lain bodoh, atau percuma. Aku adalah lulusan Ilmu Ekonomi FEUI, dan teman-temanku yang lulus bersamaku sudah berkerja semua di bank-bank swasta terkenal seperti Mandiri dan Standard Chartered sebagai Management Trainee (MT). Sedangkan aku? Aku memilih untuk mengambil magang di Bank Indonesia. Sebuah aktivitas yang sangat melelahkan tanpa bayaran, hanya dapat uang saku yang cukup untuk pulang-pergi dan makan siang. Orang akan berpikir mengapa aku yang bisa mendaftar pekerjaan yang mungkin sama well-paid nya dengan teman-temanku, malah memilih magang yang sedikitpun tidak menambah tebal dompetku.

Ini adalah keputusanku. Aku telah berpikir masak-masak bahwa aku tidak cocok untuk bekerja di bank-bank swasta, perusahaan swasta atau menjadi MT di perusahaan maupun bank mana pun. Aku merasa bahwa aku belajar Ilmu Ekonomi bukan untuk bekerja demi menambah keuntungan sebuah perusahaan. Aku berpikir bahwa aku ingin mendedikasikan Ilmu Ekonomi untuk negara ini. Bayangkan bahwa dari 100 orang lulusan Ilmu Ekonomi FEUI, tidak sampai 20% yang menjadi akademisi dan peneliti. Padahal Ilmu Ekonomi adalah ilmu untuk penelitian dan masyarakat. Tetapi, memang minat setiap orang berbeda dan aku tidak sedikitpun membenarkan keputusan orang yang menjadi peneliti atau menyalahkan yang tidak menjadi peneliti. Hanya saja, aku ingin menjadi peneliti, karena itulah aku mengambil magang di Bank Indonesia yang tidak membutuhkan syarat-syarat pengalaman bekerja sebagai peneliti seperti lembaga-lembaga lainnya.

Hari pertama aku magang di BI, aku benar-benar merasakan senang bekerja di dalamnya. Bukan hanya para peneliti dan direksinya yang menyenangkan dan bersahabat, tetapi juga jenis pekerjaan yang dilakukan selama sehari aku magang. Aku harus menenggelamkan diriku kepada tumpukan jurnal untuk mendapatkan satu kesimpulan hipotesis dasar, menelusuri data-data perbankan untuk menentukan variabel-variabel dalam penelitian, dan menyusun sebuah kerangka dasar pemikiran dalam bentuk proposal untuk diajukan sebagai penelitian. Benar-benar hal yang sangat aku sukai. Aku menjadi sangat bersemangat untuk melakukan penelitian.

Bagiku ada dua hal yang membuat penelitian menjadi menyenangkan. Pertama, kita berusaha untuk menguak hal-hal baru yang mungkin tidak kita ketahui. Berbeda dengan bekerja di bank atau perusahaan swasta yang memiliki rutinitas yang begitu-begitu saja, penelitian memberikan tantangan bagi kita untuk terus mengembangkan diri dan dinamis terhadap kondisi sekitar. Research is full of wonders. Kita tidak tahu outcomes yang akan keluar dari penelitian kita yang selalu membakar rasa ingin tahu. Kita harus terus berusaha mencari tahu hal-hal yang baru karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan kita menjadi bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan itu.

Kedua, hasil penelitian tersebut bukan hanya bermanfaat bagi kita sendiri, atau institusi di mana kita berada, tetapi juga kepada masyarakat luas yang mendapatkan value added dari penelitian tersebut, baik secara material maupun immaterial. Pada saat hal tersebu terjadi, perasaan puas karena ilmu yang kita dalami sampai saat ini bermanfaat bagi masyarakat akan muncul. Betapa menyenangkannya karena selama bertahun-tahun kita belajar, kita bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Magangku selama sehari ini membuatku semakin ingin menjadi peneliti. Timeline pekerjaanku selama seminggu ke depan sudah diberikan, seperti melakukan simulasi terhadap variabel-variabel dan menyusun model estimasi. Setidaknya selama seminggu ke depan aku masih bersemangat dengan pekerjaan ini.

I'm wondering what will I do in the next three months? Well, I hope I can keep up my spirits until the end!

Regards,
Wirapati

Hidup yang Kuinginkan

Apa yang kuinginkan dalam hidup ini? Apakah hanya sekedar belajar, memperoleh pendidikan tertinggi, berkeluarga, mencari nafkah, hidup berkecukupan, bahagia dengan keluarga, dan kemudian meninggal dengan tenang? Part of it, yes. Tapi aku tidak mau hanya hidup seperti itu.

Aku hanya ingin hidup di dunia yang sedikit kurang biasa, jika tidak bisa luar biasa. Aku ingin bisa memanfaatkan hidupku yang hanya sebentar di dunia ini, untuk menjadi manfaat bagi sekelilingku, bagi dunia ini. Aku belajar, berkarya dan berpikir hanya demi satu impian dan visi ini. Aku ingin, suatu hari nanti, aku bisa melakukan sesuatu yang besar demi dunia ini, sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Sehingga aku bisa meninggalkan bukti kehidupanku, bukti keberadaanku. Sehingga aku bisa terus hidup di dunia ini, dalam buku sejarah, dalam biografi, dalam buku teks kuliah, dan dalam ingatan semua orang. Sehingga, aku bisa mencapai sesuatu yang disebut keabadian. Keabadian yang menurut diriku sendiri. adalah tetap hidup di hati seluruh umat manusia.

Tapi, bagaimana jika aku ditakdirkan untuk hidup normal?

Maka aku tidak terima. Aku akan memberontak dari nasib, menggeliat dari takdir, dan melepaskan diri dari belenggu waktu. Waktu boleh berhenti bagiku, tetapi hidup harus tetap berjalan bagiku. Memang ini adalah impian yang sangat kekanakan dan egois serta terdengar tidak masuk akal. Tapi inilah The Boy That Lives Inside Me. Inilah hal yang selalu kuimpikan semenjak aku dapat berpikir. Dan aku akan terus memimpikan ini, sebagai anak lelaki yang tak pernah melepaskan harapannya, dengan optimisme yang lebih besar dari semua orang di dunia ini, dengan semangat hidup yang tak terbendung. Berapa tahun pun aku ditakdirkan hidup, akan kuciptakan legenda diriku, in my Quest of Legacy.

Dream On!
Wirapati

P.S. Sudah lama tidak menulis seperti ini. Lega rasanya. :D

The Point of Happiness


I'm just wondering so hard, do we have to snatch happiness from other people to get happy? Do we really to be selfish so that we can become happy? Is it individualistic that fuels our happiness? I'm wondering about it since there are people in this world who try to grab happiness for their own.

I believe that there's no point of being happy alone. Why? Because happiness were meant to be shared with other people. Because you can only feel really happy when there are people who share smiles and laughs together with you for your happiness.

Do you feel happy when fortunately you got your own great marks on your exams. while unfortunately your best friends just have red marks on theirs? I would feel like all of my happiness from my successful exam just ceased away. Because, I cannot share this to my friends. I am only keeping it to myself. And it is no fun at all. Because you have to hold back the happiness for yourself.

When you snatch happiness from others to grab your own happiness, you will also lose the fun part of being happy. That is to have people to share with, also. Since you were just taking someone's happiness away, no one would appreciate it. That is why, you just cannot tell anyone about your happiness, unless you got no shame at all.

I always imagine a world with myself living on my own alone. Where there lives no human but me, and I own everything that remains in this flourished world. Indeed, having all of those blessed beings fow my own is a very great fulfillment. But, don't you think it is sad. You live there alone, and got no one to communicate with. All of those that you own cannot be shared to anyone. You can only enjoy it yourself and try to smile and laugh on your own, with no one tells you that you've been doing great or anything.

It is human basic instinct to desire of owning everything they could in this world. But, once you have everything, you left nothing for the others. You are all alone, the only one enjoying happiness. Imagine how lonely that is, even though you are flourished with wealth and everything, but friends to share with.

No matter how happy you are, having no one to share your happiness with is nothing but sadness. We must not be selfish. We have to make everyone happy, so that we can always share our happiness together. That is the point of happiness, to have it shared with all of the other people. That way, you can always be happy, in the true meaning.

Friends will double your joy, and divide your sorrow,
Wirapati

Membuka Kembali Luka Lama

Lama tidak berjumpa, kawan. Akhir-akhir ini aku cukup sibuk dengan berbagai macam hal seperti melamar pekerjaan, membuat paper, membantu pekerjaan dosenku, dan lain-lain, jadi postinganku sempat berhenti sesaat. Kali ini aku kembali posting mengenai sebuah analogi yang kudapat saat iseng-iseng berdiskusi dengan ayahku.

Kalian pasti mengenal sebuah ungkapan "membuka kembali luka lama". Luka dalam hal ini tidak berarti luka fisik seperti memar, berdarah atau lainnya. Luka ini merupakan luka dalam batin kita yang memberikan tekanan terhadap perasaan dan hati kita. Pengalaman buruk dapat menimbulkan luka dalam hati kita, yang membuat kita menjadi takut, atau sedih, atau marah saat mengingatnya kembali. Inilah luka yang kumaksud.

Kebanyakan orang berusaha untuk tidak lagi mengingat luka ini, karena mereka takut untuk "membuka kembali luka lama". Mereka takut karena saat mereka mengingatnya kembali, mereka akan kembali sedih, marah atau takut akan ingatan yang tersimpan jauh di dalam hati mereka itu. Mereka melupakannya, terkadang tanpa berusaha mengetahui jawaban dari luka dalam hati mereka tersebut.

Sebenarnya, terkadang kita salah jika kita berusaha untuk menguburnya dalam ingatan kita, agar kita tidak mengingatnya kembali. Terkadang, kita harus membuka kembali luka tersebut untuk dapat menyembuhkannya. Dalam medis sekali pun, terkadang para tim medis berusaha untuk membuka luka tersebut kembali untuk mengetahui penyebab atau untuk menyembuhkan luka tersebut agar dapat sembuh tanpa bekas.

Hal yang sama sebaiknya kita lakukan. Mengapa kita harus takut terhadap masa lalu? Kita harus membukan kembali luka tersebut dan mencari jawaban atas segala kegundahan kita terhadap masa lalu kita tersebut. Kita harus merenungi apa yang telah terjadi di masa lalu, walaupun hal tersebut dapat mengingatkan kita terhadap sebuah kenangan buruk. Kita harus berani. Tanpa melakukan itu, kita akan terus dibayangi oleh kenangan masa lampau tersebut dan kita mungkin akan semakin menderita saat kita berusaha melupakannya.

Jangan pernah takut pada masa lalu, kawan. Hadapilah masa lalu dengan berani dan pandanglah masa depan. Kita takkan pernah maju jika kita hanya berusaha untuk menutupi luka lama tersebut tanpa berusaha menyembuhkannya. You can never move on, if you cannot even heal your wound in the past.

Smile eternally,
Wirapati

The Choice Called Destiny

People tends to blame destiny. I acknowledge that. When we finally falls to poverty, we blame destiny. When someone we love gone, we blame destiny. When we failed on something, we blame destiny. Destiny is all at fault. We never try to see it clearly, that we're not destined to be, not until we destined ourselves.

Does someone being destined to be poor? Does someone being destined to fail? Does someone being destined to be nothing at all in this world? Do I destined to be those way?

If yes, then I don't accept it!

I want to break through al of this crap we call destiny. It's not destiny at all, not a single piece of it. Destiny is not a matter of chance, it is a choice. It is not a thing we have to wait for. Destiny is to achieve. If human are helpless with their destiny, then there is no point God creates us as an able creature. Then. we are not more than just a doll, living only for dying, with the role that has been decided long ago before our birth.

It's not like that.

I believe that life is a big, long, branched river. The river has a lot of branches, with their own stream, river rocks and shape. There are branches which stream is calm, and there with swift, dangerous stream able to sink anything across it. There are branches with challenges as river rocks. And there are branches which just straight and there are curvaceous type.

Just like life, there times when you live peacefully, and there are times when it become harsh. There are time where challenges are ahead, and there are times when you can't even jusr go straight to what you want. It is your choice that made you your life. Which branches do you pick? Which do you want to go? If you choose to follow your dream, there might challenges ahead of you. But, you choose yourself whether you want to overcome it or not.

But, in the end, the stream will end to the same goal, the sea. I think it is something that God has decided for human being: The Sea, or what we call as Death. This is a destiny that you cannot shape. You cannot cheat death, nor you can runaway from it. That's why while trasversing all of those stream, you must make choices so that when you arrive at the sea, there are no regrets on your life, therefore you can set sail peacefully.

Do not blame destiny, friends. Your choice shape your own destiny. When you failed on something, it is something you have chosen. Maybe you're struggle is not enough, or maybe you're not even trying. You can choose to break through poverty. You can choose everything. And that is your destiny. It is not one static thing, it is something really dynamic that you can even shape it yourself.

Now, achieve your destiny, mate!
Wirapati