Red Card and Green Card

Jumat, 27 Juni 2008, Openness...

Hmm.. Pernahkah anda semua mendengar kata Red Card dan Green Card. Keuda benda itu adalah sarana untuk membuka diri kita untuk memberikan pujian atau kritikan kepada teman dalam sebuah training motivasi. Nah, gw telah mendapatkan keduanya dalam training motivasi Kanopi dan akan gw gunakan untuk refleksi diri.

RED CARD!! (Bukan RONCAR yaaa)

1. Susah Dikritik
Hmm.. I guess that's what people think about me. Keluarga gw juga berkata hal yang sama. Sebenernya gw seneng banget lohh dikritik. Cuma ya gitu. Gw tuh orangnya berpegang teguh ma prinsip yg gw anggap benar. Jadinya, terkadang saat orang mengkritik gw, gw akan dengan segera memproteksi prinsip gw. Sebenernya bukan gw gak mau dikritik. Klo kalian sadar, sbenernya smua kritik kalian gw tampung lohh. Bahkan, gw sedikit demi sedikit mengubah diri gw ke arah kritik kalian selama gw anggap kritik itu benar. Jadi, jangan ragu2 untuk mengkritik gw. I'm very proud to a straightforward person.

2. Keras Kepala
That's what being a coleric person are for. Keras Kepala! Gw seperti yang gw selalu memegang teguh apa yang gw percayai dan itu cenderung mengubah gw jadi orang yang keras kepala. Biasanya gw baru mau mundur saat gw merasa gw memang benar2 salah. Tapi, seperti Red Card sebelumnya, mungkin cara gw memproteksi diri salah, gw terlalu keras. Mungkin memang harus diubah dari hal ini terlebih dahulu.

3. Kekanak2an
Whew.. Gw sbtlnya gak ngerti dari sisi mana kekanak2annya. Apa suka ngambek seperti anak2 ato gak bisa serius kyk anak2. Tapi, gw asumsikan mkasud kritikus ini adalah belum dewasa. Ya! Gw melalui sebah hidup yang kurang mendorong pendewasaan diri gw. Dan itulah mengapa gw kurang memvalue school life terlalu tinggi. Masa2 mahasiswa inilah yang memberikan akselerasi bagi pendewasaan gw. Di sini gw bnyk belajar dan menjadi dewasa sedikit demi sedikit. Tapi, menurut gw, gw blm cukup dewasa untuk menjadi seorang pemimpin, itulah mengapa gw harus banyak belajar. Thanks for the critique! Guess, I have to become more mature!

4. Ribet
Err... Agak kurang ngerti dengan pendapat ini. Sebenernya gw adalah orang yang membenci keribetan juga, karena itu gw menghabiskan banyak waktu dalam hidup gw untuk memikirkan sebuah sistem paling efisien untuk seluruh sektor kehidupan gw. Tapi, mungkin sistem yang gw buat belom cukup baik. Need a lot of training! Thanks, pal!

5. Ambitious
Ini pendapat dari sahabat gw yang bisa diandalkan, Uchal. Hmm... Buat gw gak selalu ambisius itu buruk. Dalam Cambridge Dictionary, ambitious means having great desire to become succesful. Yep! Orang yang ambisius adalah orang yang memiliki keinginan kuat untuk mencapai cita2nya. Doesn't sound bad, huh? Ada sebuah kondisi di mana ambisius menjadi buruk. Yaitu, pada saat demi sebuah ambisi, seseorang rela menggunakan segala cara, walau itu harus merenggut kesempatan orang lain menggapai ambisinya atau memanfaatkan orang lain. Selama ambisius dilakukan secara fair, itu adalah hal yang baik dan sangat diperlukan utnuk seseorang agar maju. Jadi, ada 2 jenis ambisius, positif dan negatif. Ambisius yang mana maksud lw, chal? Hope it is not the negative one, cuz prinsip utama gw adalah keadilan.

That's all the red cards, and here goes! The green one!

Green Card:
1. Lucu
Wow! Lucu dari sisi mana nih? Muka? Badut dounk! Gak juga lah. Gw asumsikan maksud lucu ini adalah sering membuat orang tertawa. Tapi, ya! Memang gw senang membuat orang tertawa. Gw bahagia melihat orang bahagia. Karena itu, gw pernah bersumpah untuk membuat orang lain bahagia. That's one of my biggest ambition!

2. Berenergi Positif
Brarti gw adalah salah satu dari pahlawan suci pembela kebenaran. Hahaha. Mungkin maksudnya mirip dengan yang lucu di atas. Gw senang membuat orang di sekeliling gw tertawa sehingga menyebabkan gw seakan2 berenergi positif.

3. Cocok Jadi Pemimpin
Amin! Mudah2an gw memang bener2 cocok. Tapi, gw rasa, I'm not yet a leader. Masih banyak yang harus gw pelajari dan gw jelajahi. Bahkan seorang temen gw mengatakan gw masih anak papi. Ya, artinya gw belum cukup dewasa untuk jadi pemimpin. Tapi, gw akan memanfaatkan hidup ini sebagai ajang latihan gw. Seorang Guru Besar FEUI, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono juga pernah mengatakan, "latih diri menjadi pemimpin!" kepada gw. Dan gw akan melakukannya!

4. Supel
Hmm.. Banyak temen gw yang ngomong kyk gini. Tapi, FYI aja, gw adalah orang yang introvert sampe gw SMA. Gw cenderung sulit bergaul dan menutup diri. Tapi, yah, gw seneng klo temen gw berpendapat demikian, minimal gw uda cukup berkembang. Gw senang berteman dan teman adalah harta paling berharga bagi diri gw.

5. Orang yang kuat
Junior gw, Sheny, yang ngasih gw Green Card ini. Cuma, kuat dalam arti apa nih, shen? Klo badan, sebagai orang berbadan besar, tenaga gw cukup lemah dan fisik gw juga tergolong payah. Gak segitunya dehh. Mental? Hmm.. Mengkin gw terlihat tegar di depan, tetaoi di dalam hati gw, gw sering merasakan kehancuran dan jarang gw tampakan ke surface. Itu karena gw merasa tidak ingin membebani orang lain dengan masalah gw dan lebih buruknya gw sering membebani diri dengan masalah orang lain. Temen gw pernah bilang itu gak baik, karena jadi gak balance. Berbagi dengan teman meringankan beban kita dan membagi beban dengan teman adalah inti dari sebuah persahabatan. Sampai saat ini, baru sekali gw tumpahkan air mata di depan sahabat gw karena... Pokoknya karena itulah. Semoga tangisan yang gw tumpahkan di depan sahabat gw itu membuat gw jadi lebih kuat.

6. Salut sama kebijakan lw!
Ini Green Card dari Banyu, senior gw. Hmm.. Kebijakan apa nih, nyu? Apakah mksdnya gw bijak? Hope so. Kritik dari temen gw bilang gw kekanak2an tapi Banyu bilang gw bijak. Gw agak bingung dengan hal ini. Tapi, gw tarik satu kesimpulan. Green Card dari Banyu adalah bukti perkembangan gw dan Red Card dari Anonymous adalah bukti gw kurang berlatih. Thanks for, you two. Hope I could get wiser and wiser.

7. Berpikiran maju ke depan dan inovatif
This comes from teman curhat gw, Aldi. Hahaha. Gw gak tau apakah benar gw berpikiran jauh ke depan ato inovatif karena gw belom pernah merasakan semua itu dalam diri gw. Tapi, mungkin baik juga klo ada yang berpikiran begitu. Berarti gw sudah cukup berkembang. Tapi, bukan berarti gw sudah cukup dengan kondisi ini. Prinsip gw adalah: Look Forward!

Itulah semua green card dan red card gw. Tapi, gw ingin menegaskan satu hal, khususnya pada titik ambisius. Gw adalah seorang anak yang dilahirkan tanpa specialty. Gw bukan tipe pemimpin, gw gak begitu pinter, gw lahir sebagai orang introvert, gw gak kaya, emotional quotient gw pas2an dan sebagainya. Hal itu memaksa gw untuk merangkak dari titik jurang terbawah dan membuat gw berusaha keras untuk mencapai mimpi gw. Beberapa dari kalian mungkin tak merasakan ini karena kalian mungkin memiliki sebuah kelebihan yang bisa dibanggakan. Gw ingin seperti kalian. Oleh karena itulah, gw harus lebih berusaha dari kalian. Gw harus mencurahkan lebih banyak keringat dari kalian. Impian itu mendorong gw untuk tidak pernah menyerah. Gw akan terus maju hingga gw gak bisa bergerak lagi. Karena gw percaya, kerja keras melebih para jenius. Bahkan Einstein pernah berkata bahwa jenius itu 1% inspirasi dan 99% prespirasi.

Gw cuma minta agar kalian tidak salah menilai gw. ambisius gw itu bukan kaena apa2. Tapi, karena gw berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dengan modal yang terbatas sehingga menuntut kerja keras yang lebih besar dari kalian semua. Keringat dan air mata yang gw tumpahkan sampai saat ini belum cukup untuk melebihi kalian, mungkin dibutuhkan darah gw sendiri untuk mencapainya. Tapi, gw gak akan menyerah. Itulah arti ambisius bagi gw, menjadi orang yang paling akhir menyerah dan berusaha lebih banyak dari semua orang.

Thanks for the critiques! Buat yang ngebaca ini, gw harap lw smua juga memberikan Green Card dan Red Card buat gw melalui comment. Gw senang jika kalian mau menuliskannya. Thanks before!

Smile Eternally,
Wirapati...

Sekedar Curhatan Cinta: Pria Pesimistis

Selasa, 17 Juni 2008, Berbagi Kisah...

Sedikit beristirahat dari topik2 berat. Ini hari yang cukup bermakna bagi gw. Hari yang panjang, dimulai dengan statis dan diakhiri dengan luar biasa sekali!

Sepeti biasa, gw menjalani hidup gw sebagai anak kuliah sekaligus organisatoris di kampus. Kuliah kemudian rapat. Yah, hari2 seperti biasa. Tetapi, ada yang cukup spesial hari ini, yaitu adalah hari ini Uli dan Wibi mentraktir kami di Pizza Hut Margo City. Yoi, dahsyat! Langsung saja hari yang hambar ini berubah drastis. Sore2nya gw rapat dulu secara kilat dengan penuh semangat makan gratis.

Sepanjang rapat di kepala gw cuma ada bayangan Pizza hangat dan gurih dengan mozarella yang kenyal dan ditemani daging2 bertaburan di atasnya. Langsung dah! Sepanjang rapat gw berbicara, banyak banget dah tuh ludah yang muncrat2. Secara iler gw ngumpul semua di mulut jadinya penuh dan berhamburan minta keluar pas congor gw menari2 membayangkan sedang mengunyah, tapi disalurkan dengan mbacot. Beh! Rapat setengah konsen dah, sisa jiwa gw cuma ada di dua tempat, Pizza Hut Margo City dan WC.

Anak2 uda berangkat duluan sementara gw masih rapat. Nabir yang sudah janji menunggu gw pun masih menantikan selesainya rapat gw dengan setia ditambah Uchal, Aldi dan Riko. Riko mah sbenernya kagak mau nunggu, cuma dia kan rapatnya bareng gw, jadinya mau tak mau dahh. Setengah hatinya juga ada di Pizza Hut Margo City.

Gw slese rapat (yang dipercepat), langsung cabut! Gak pake nunggu2 coz perut uda di ujung tombak. Langsunglah kita semua melambai ke arah utara buat dadah2 dan melenggang ke Margo City dengan satu mobil isi 5 (gw, nabir, uch, aldi, riko) yang uda dijamin pasti lolos three in one. Dengan kecepatan cahaya, kami melesat ke target. Makin lama makin mendekati, semakin dekat, dan semakin dekat, tiba2 hape berdering. Ternyata Shamien dan Ichal belom keangkut. Bah! Mampus dahh. Langsung aja kita jemput mereka di UGM (Universitas Gunadarma Margonda).

Dengan demikian, sekarang kita emank bisa lolos dari three in one, tapi gak bisa lolos dari seven in one!! Gila! Satu mobil sedan isi tujuh! Uda gitu jalannya lambat banget kayak kuya. Katanya, mobil yang mengangkut di luar kapasitas bisa ditangkep. Nah! Kita pas uda hampir nyampe Margo City, ada manklisi (temennya polisi) ngelyatin kita. Uda pada panik tuh! Teriak2 minta cepetan jalan biar gak ketahuan. Shamien yang kecil ampe ditutupin tas biar gak keliatan. Tapi rupanya, bukan core competence mereka untuk menangkap kami, jadinya SAFE!


Nah, sampe di Pizza Hut, langsung saja kita duduk terpisah (uda kayak anak tiri) coz tempat duduknya gak muat. Tapi, memang para Ustadz dan Ulama serta segala Pak Haji itu gak ada yang salah klo ngomong tiap ujian ada hikmahnya. Saat pizza yang dinantikan tiba, meja gabungan yang tidak cukup menampung pendatang gelombang kedua langsung berebutan rusuh buat dapetin pizza. Sementara meja gw yang isinya cuma 6 orang (gw, aldi, uch, shamien, nabir, ichal) damai sekali saat pizza berukuran LARGE tiba. Nabir membagikan pizza layaknya emak yg membagikan makanan ke anak2nya yg buas minta makan. Saat di sana rusuh, di meja gw makannya elegan. Beh, oke dah.

Akhirnya saatnya pulang. TERIMA KASIH KEPADA ULI DA WIBI ATAS TRAKTIRANNYA!!! Dengan demikian, kami pun berhamburan pulang. Di perjalanan pulang nganterin Nabir ke kampus, Aldi konsultasi cinta dan pacaran dengan Nabir yang sebagian besar gak gw ngerti karena belom pernah ngalamin (Pasti temen2 gw pada teriak pas baca ini: Oportunis [Nabir], Curlong [Shamien], Pelacur [Uchal]). Beh pokoknya gw mah iya2 aja deh pas mereka ngobrol, daripada melongo mupeng minta dipacarin, hehe. Tapi, pembicaraannya sangat serius karena Aldi sedang menghadapi masalah.

Selesai mengantar Nabir, gw langusng angkat bicara ke Aldi.
(Reka Ulang Kejadian)
Roy yang Jomblo Sejak Lahir: Di.
Aldi yang Jomblo Belom Lama: Ya?
Roy yang Jomblo Sejak Lahir: Gw gak tau kenapa sampe sekarang masih belom ada keinginan buat pacaran begitu dahh.
Aldi yang Jomblo Belom Lama: Oya?
Roy yang Jomblo Sejak Lahir: Yeah. Soalnya gw agak ngeri. Koq pacaran kyknya rebek ya? Soalnya anak2 koq pada aada2 aja ya masalahnya?
Aldi yang Jomblo Belom Lama: Iya sihh..
Roy yang Jomblo Sejak Lahir: Uda gitu masih ada yang harus gw lakukan dan agak sulit klo harus pacaran begitu. Makanya gw gak nyari cewek
Aldi yang Jomblo Belom Lama: Hmm. Klo gw....

Begitulah kira2nya reka ulang kejadian dari pembicaraan awal kami. Maaf agak fiktif soalnya gw juga lupa dan MP3 Player di obil gw gak bisa ngerekam pembicaraan. Pokoknya kira2 begitu deh.

Pembicaraan makin serius di mana gw yang Jomblo Sejak Lahir dan Aldi yang Jomblo Belom Lama mengenai masalah percintaan. Pebicaraan dimulai dari tipe cewe yang kita berdua suka. Klo gw seh ya, tipe cewe yang supertif dan ngga rebek, gak begitu peduli cantik ato gak, klo dapet cantik ya Alhamdulillah. Knapa begitu? Soalnya gw masih punya banyak yang harus gw lakukan selama di kampus dan kemungkinan gw gak bisa banyak bersama dengan sang cewe karena apa yang gw lakukan, gak seperti teman2 gw yang lain yang bisa tiap sabtu minggu ato hari libur ngapel terus2an, gw punya kesibukan karena mimpi gw.

Tetapi, jelas bahwa gw pasti akan tetap memperhatikan doi, gak berarti dianggurin gitu aja. Tapi, yang jelas gw bukan tipe yang suka basa-basi kayak ngeSMS tapi cuma nanyain uda makan belom, uda mandi belom, dll. Soalnya pengalaman gw PDKT jaman dulu2 ya gw klo PDKT pasti ngobrolnya yang bertopik dan jelas. Mungkin itu salah satu sebab kegagalan gw dahulu kala.

Pembicaraan diteruskan sampe gimana kondisi masing2. Gw mengatakan bahwa gw kalo PDKT pasti kelamaan karena gw gak yakin klo cuma sebentar dia pasti mau. Dan lebih parahnya, klo kelamaan, uda jadi sahabat duluan. Pas terjadi hal demikian, menjadi sebuah dilema bai gw. Klo gw tembak dan dia nolak, maka hubungan kita akan tiba2 menjauh dan jika gak gw tembak, maka perasaan itu akan terjebak selamanya di hati gw dan perlahan-lahan mengirisnya, apalagi klo tiba2 dia suka orang lain dan curhatnya ma gw, beuhhh.

Terus, tiba-tiba Aldi ngomong kalo dia tuh gak punya banyak kelebihan apa2 seperti tampang, materi, dll (Gak gitu koq di, lw punya banyak kelebihan, yang gak punya banyak tuh gw) jadinya dia gak begitu PD kalo mau maen tembak2an. Dan dia mengatakan bahwa dia agak pesimis dengan segala urusan kayak gitu. Ahhh! I found my brother that born separatedly! Aldi, ternyata kita sama! Langsung saja di dalam mobil itu kita berdua bersalaman penuh haru kl bisa berpelukan uda berpelukan deh , sayangnya di halangi oleh setir mobil, pokoknya uda kyk Jalinan Kasih deh. Kami berdua langsung bersemangat dalam saling curhat, berbagi kisah. Bener2 gak kerasa.

Nyampe di jalan tol, tiba2 Aldi bertanya siapa gebetan gw. Gw bilang gak ada. Aldi gak percaya dan terus memaksa, tetapi gw tetep biang gak ada. Setidaknya akhirnya kita berjanji bahwa klo masing2 punya gebetan, maka kita harus saling bercerita.

Hmm.. Masalah gebetan. Sebetulnya ya gw punya sihh. Tapi bukannya punya. Gw masih belum tahu apakah perasaan gw ke dia adalah perasaan suka beneran ato cuma angin2an doank. Gw bingung! Gw blm bisa menentukan kondisi gw. Haha. Aldi, klo lw baca postingan ini, bukannya gw boonk ma lw tentang gw gak punya gebetan. Lw inget gak kata2 terakhir gw sebelum lw keluar dari mobil, "Oke, di. Gw pasti bakal cerita2 klo gw uda settled." Itulah. Maksud gw, klo gw uda cukup yakin pasti gw ceritain. Bukannya gak percaya sama lw, di. Tapi, gw aja yang belom mampu nyeritain. Dan gw berjanji bahwa lw akan menjadi orang pertama yang akan tahu klo gw nanti siap nyeritain. Just wait!

Alhasil, hari ii adalah hari besar. Karena di hari bersejarah ini, telah terbentuk ikatan persaudaraan yang... Enaknya dikasih nama apa ya? Oke! PRIA PESIMIS! Disingkat: PIPIS. Hehehe. Tauklah namanya apa yang jelas, persaudaraan ini, No Couples Allowed. Berarti, di. Klo salah satu dari kita jadian, persaudaraan kita bubar dounk.

Yah begitulah cerita mengenai curhatan cinta gw. Uda lama gak ngomongin kayak gini. Segera juga deh jadinya. Oya, gw punya quote yang gw bikin sendiri, mungkin bisa mengilhami kalian semua.

Love is more than loving each other

Smile Eternally,
Wirapati...

WHICH ONE ARE YOU? Part II

Minggu, 15 Juni 2006, Pilihan Berikutnya...

Pada posting sebelumnya, gw sudah menanyakan para pembaca mengeai mahasiswa jenis apa mereka. Kali ini, gw akan bertanya lagi, mengenai yang manakah kalian?

Tentu kita pernah belajar di PPKn ato PMP ato pelajaran budi pekerti lainnya mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara. Di dalamnya, kita diajarkan untuk memela negara dan berjuang demi nasionalisme yang tinggi disertai rasa patrioisme. Kemudian di bab lainnya, kita juga pernah diajarkan untuk membela kebenaran untuk menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan.

Sekarang, bagaimana jika keduanya berseberangan? Bagaimana jika Nasionalisme dan Kebenaran berada di sisi yang berseberangan? Yang manakah yang akan kalian pilih? Nasionalisme dengan mengorbankan kebenaran, atau sebaliknya?

Mungkin kalian akan berpikir mustahil hal itu akan terjadi, tetapi, gw akan menggambarkannya melalui kisah yang sudah berabad-abad umurnya, yaitu Wiracarita Ramayana.

Gw gak akan bercerita dari sisi Rama, tetapi akan gw perhatikan di sisi Rahwana dari Alengka. Dalam kisah Ramayana ini, ada dua tokoh yang menjadi figur dari Nasionalisme. Mereka adalah adik kandung dari Rahwana, yaitu Wibisana dan Kumbhakarna. Latar belakang dari cerita ini adalah kisah penculikan Dewi Sita oleh Rahwana karena dihasut oleh adik perempuan Rahwana, Surpanaka.

Dalam cerita tersebut, dikisahkan bahwa Wibi sana adalah orag yang menjunjung tinggi keadilan. Melihat sikap Rahwana yang dapat menimbulkan perang, Wibisana menasehati kakaknya untuk mengembalikan Sita agar pertumpahan darah dapat dihindari. Mendengar apa yang dikatakan oleh adikny, Rahwana murka dan mengusirnya dari Alengka. Mendapat tanggapan yang seperti itu, Wibisana merasa dirinya tak punya tempat di Alengka. Kemudian, dia memutuskan untuk pergi ke pihak Rama untuk menghentikan kakaknya. Akhirnya, Wibisana bertempur untuk Rama dan dapat menghancurkan banyak prajurit Alengka.

Di lain pihak, Kumbhakarna juga tidak setuju dengan apa yang dilakukan Rahwana dan menasehati kakaknya. Mendengarkan hal yang sama dengan yang dikatakan Wibisana, Rahwana juga akhirnya mengusir Kumbhakarna. Tetapi, berbeda dengan yang dilakukan Wibisana, Kumbhakarna tidak menyeberang e Rama, melainkan bertapa dengan tidur di pantai selama 6 bulan. Selama Kumbhakarna tidur, pasukan Rahwana sudah mulai dikalahkan satu dmei satu oleh Rama dan WIbisana. Melihat ini, Rahwana menemui Kumbhakarna untuk memintanya kembali bertempur bersama. Kumbhakarna yang terbagun mengatakan bahwa bukannya dulu Rahwana mengusirnya. Kemudian Rahwana mengatakan bahwa bukan dia yang memanggilnya, tetapi negaranyalah yang memanggilnya. Maka, mendengar hal itu, Kumbhakarna bertempur kembali, tetapi bukan demi kakaknya, melainkan demi negaranya.

Di tengah pertempuran, Wibisana dan Kumbhakarna bertemu dan mereka tidak bertempur melainkan saling bersahabat layak saudara dan Wibisana membiarkan Kumbhakarna lewat. Pada akhirnya Kumbhakarna gugur demi negaranya dalam pertempuran oleh Rama dan Wibisana menjadi Raja Alengka dan memerintah dengan bijaksana.

Nah, yang manakah kalian? Orang yang bertempur demi mebela kebenaran walaupun harus melawan negerinya sendiri? Atau orang yang apapun terjadi akan membela negaranya dan rakyatnya dari kehancuran dengan rasa nasionalisme dan patriotisme?

Ini adalah pilian yang sulit dan pada suatu saat pasti kita akan dihadapkan dengan pilihan yang luar biasa sulit ini. Jika dilihat dari sisi mahasiswa, Wibisana adalah mahasiswa yang membela rakyat dan menuntut penurunan harga BBM agar rakyat tak menderita, sedangkan Kumbhakarna adalah mahasiswa yang memperjuangkan stabilisasi melalui kenaikan harga BBM agar negara ini tidak hancur.

Patut diperhatikan, bahwa tidak ada yang salah! Masing-masing dari kedua pihak telah memilih jalannya sendiri dan tidak patut untuk dipersalahkan dan tidak patut untuk saling bermusuhan. Layaknya Wibisana dan Kumbhakarna, kita yang berbeda gerakan tak berarti harus bermusuhan. Mereka pun tidak bertarung saat bertemu, melainkan membiarkan lainnya lewat. Sama saja dengan kita. Karena kita punya satu visi, biarlah masing-masing melakukan caranya masing-masing.

Nah, sekarang, yang mana yang kalian pilih? Ingat, tidak selalu hal tersebut dapat berjalan bersama. Ada saatnya mereka akan berseberangan. Oleh karena itu, kita harus konsisten dalam menentukan sikap. Dan jika nanti kalian sudah memilih, janganlah saling mencemooh. Mari berjalan bersama dengan cara yang berbeda. Perbedaan sisi tak berarti kita boleh saling berseteru.

Different Side, but doesn't mean that we have to collide

Smile Eternally,
Wirapati...

WHICH ONE ARE YOU?

Jumat, 13 Juni 2008, Pilihan...

Tidak ada yang ingin kuceritakan hari ini. Hanya saja, aku ingin berbagi mengenai sebuah pemikiran, tentang mahasiswa.

Kita tahu bahwa mahasiswa saat ini tidak dipenuhi kemunafikan, atau mungkin dari dahulu kala. Bayangkan bagaimana mahasiswa melakukan aksi turun ke jalan karena mendapat uang. Bayangkan bagaimana jenderal lapangan demonstrasi yang dimasukkan penjara dan keluar-keluar jadi anggota DPR. Atau ketua BEM yang setelah lulus langsung ditarik partai politik. Tidak bermaksud su'udzon tetapi benarkah semua dari mereka bergerak karena hati nurani? Apakah yang mereka incar adalah Fame and Glory, or even Money? Semua pasti memiliki alasan yang berbeda-beda, ada yang baik dan buruk, ada yang mementingkan diri sendiri dan pembela kebenaran sejati.

Tapi bukan itu yang ingin gw bicarakan. Sudah cukup dengan semua itu dan hanya akan melelahkan saja jika kita terus mengkritik mereka tapi kita sendiri tak pernah melakukan apa2 untuk menyikapinya. Malah kitalah yang munafik jika demikian.

Mari kita tentukan posisi mahasiswa. Kita asumsikan bahwa semua mahasiswa adalah pembela kebenaran sejati. Sebelum turun ke jalan, kita haruslah tahu posisi kita. Apa yang kita perjuangkan dan untuk apa kita berjuang? Serta, berikutnya sebagai apa kita berjuang?

Tak perlu kita salahkan mahasiswa yang suka demo. Mereka tidak bodoh! Seperti yang sudah gw katakan, apa yang diperjuangkan dan untuk apa berjuang? Mereka yang berdemo pasti memiliki tujuannya masing-masing. Begitu pula dengan mahasiswa yang tidak suka berdemo, mereka mungkin sudah menentukan bagaimana cara mereka berjuang, mempertaruhkan nasibnya.

Everybody's have their own way. Jangan pernah salahkan bagaimana mereka mewujudkan pemikiran mereka. Demo atau tidak? Tidak ada yang salah! Gw sangat kecewa pada orang yang kalo orang gak berdemo, mereka mengatakan, "ahh, lo gak peduli ma rakyat!". Begitu pula dengan mereka yang berkata,"dasar demo mulu, gak ada gunanya tahu!".

Yo! Kita semua punya hak untuk mengekspresikan pemikiran kita! DUlu gw adalah anti-demo dan kadang merasa bahwa demo itu tak berguna. Tapi, gw sadar, gw gak punya hak untuk mencemooh mereka. Mereka punya jalan sendiri, maka gw memilih jalan gw sendiri.

It's not a time to insult each other! We have different way, but one goal! Let us walk together, in our own way!

Itu yang pertama. Kemudian, setelah kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan, mari kita tempatkan posisi kita. Apakah kita Kaum Intelektual? Atau kita Pembela Rakyat?

Hati-hati! Menurut gw keduanya tak bisa disatukan! Kaum Intelektual adalah berarti kita adalah pihak yang berusaha melihat kondisi dari semua sisi, pemerintah, rakyat, pedagang dan lain-lain. Karena itulah kaum intelektual, melihat segala sisi secara intelektual. Sedangkan pembela rakyat akan mendukung rakyat secara keseluruhan tanpa peduli hal-hal lain. Mengapa begitu? Karena bagi rakyat, yang penting adalah bisa makan dan hidup untuk hari esok, tidak peduli jika ternyata pada akhirnya negara in hancur, selama rakyat bisa hidup.

Keduanya tak bisa disatukan. Menjadi kaum intelektual berarti tidak boleh hanya mementingkan rakyat, sedangkan menjadi pembela rakyat berarti tidak boleh melihat aspek-aspek lain selain kesejahteraan rakyat. Seorang mahasiswa harus konsisten. Jika memang sudah memilih maka pertahankanlah. j

angan pernah kita menghina pilihan masing-masing! Yang memilih intelektual jangan menganggap pembela rakyat memiliki pemikiran yang tertutup, sedangkan yang memilih membela rakyat jangan menuduh intelektual tidak peduli nasib rakyat. Tak ada yang salah. Semua benar. Intelektual menganut Pareto di mana semua bisa better off tanpa ada yang owrse off, sedangkan Pembela Rakyat menganut Rawlsian di mana yang worse off (miskin) haus better off.

Hanya sekedar perbedaan pandangan, tetapi kita punya satu tujuan, PERBAIKAN! Jangan mencari pembenaran bagi pemikiran kita sendiri! Jangan EGOIS! Dan jangan APATIS! Jangan salahkan mereka, salahkanlah mahasiswa yang tak jelas apakah menjadi Intelektual ato Pembela Rakyat dengan melakukan tindakan anarkis. Intelektual dan Pembela Rakyat menginginkan STABILISASI sementara mereka yang aarkis hanya menciptakan CHAOS!

Jadi, kita sebagai mahasiswa dihadapkan ke dalam pilihan-pilihan. Saatnya bagi kita untuk memilih dan menentukan sikap. Tetapi, jika pada saatnya nati kita telah memilih, jangan mengejek orang yang berseberangan dengan kita. Saat ini pun gw sudah menentukan apa yang gw pilih, dan gw harap tidak ada yang menyalahkan pilihan gw, dan gw takkan menyalahkan pilihan kalian. Kita satukan pandangan kita, tapi lakukan dengan cara yang terbaik menurut kita.

Kita Memang Berbeda dalam Gerakan, tapi Satu dalam Tujuan! Indonesia yang Lebih Baik!
One Vision, Different Motion!

So, which one are you?
Smile Eternally,
Wirapati...

Time to Look Forward and Do Something!

Selasa, 10 Juni 2008, Hari Pertama SP...

Huaahh.. Akhirnya Semester Pendek tiba. Sudah lama sekali sejak semester pendek terakhir. Ya, jelas. Itu setahun yang lalu. Tapi, seperti yang gw pernah bilang, "Waktu itu terasa panjang sekali saat kau memulainya dan menjalaninya, tetapi terasa pendek sekali saat kau melihatnya kembali". Waktu itu gw sudah melihat ke belakang untuk mengevaluasi diri gw. Saat ini, gw akan akan melihat ke depan dan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti di titik perhentian itu.

Hmm.. Belum banyak yang bisa diceritakan selain gw sudah memulai kuliah dengan gemilang di mata kuliah Manajemen Pemasaran dan Akuntansi Bangs... eh, salah, Akuntansi Biad.. BIAYA! Oke! Wuih, tidak ada mata kuliah ilmu ekonomi yang gw ambil. Prediksi dari seorang temanku, Nimas, bisa2 setelah semester pendek ini kami akan melupakan yang namanya kurva. bahkan kami lupa yang mana sumbu axis (x) dan yang yang mana sumbu ordinat (y). Tapi, ya sudahlah. Itulah takdir. Mungkin ada baiknya juga mengistirahatkan diri dari segala kepenatan ilmu ekonomi dan waduh tampaknya gw salah bicara karena gw akan menghadapi kepenatan absolut dari akuntansi. Tapi, bukan brarti gw akan menyerah. Rintangan ini pasti bisa gw lalui. Look Forward!

Itulah mengenai hari pertama di SP gw. Dan saatnya untuk kembali berpikir mengenai kondisi negara ini.

Sudah cukup lama gw tinggakan omongan serius seperti ini karena gw sudah cukup muak dengan topik-topik tersebut, terutama topik mengenai mahasiswa. Tapi, mungkin akan gw bahas sedikit mengenai mahasiswa kali ini. Tapi, yang ingin gw bicarakan pertama kali adalah topik kenaikan harga BBM.

Tampaknya topik kenaikan harga BBM masih menghantui hampir seluruh lapisan masyarakat dan tampaknya tak akan reda dalam beberapa waktu. Memang kenaikan harga BBM ini merupakan structural shock yang luar biasa karena memberikan efek terhadap semua sektor mulai dari produksi hingga konsumsi, mulai dari orang kaya hingga orang miskin.

Tentu saja, dalam beberapa minggu ini, Indonesia diwarnai oleh demonstrasi-demonstrasi menentang kenaikan harga BBM yang saat ini mulai berkurang karena beberapa isu, contohnya adalah konflik FPI dan AKKBB yang katanya adalah manuver politik pemerintah untuk mengalihkan pandangan masyarakat dari kenaikan harga BBM (Gw tidak mau mengatakan apakah tentang manuver politik ini benar, tetapi harus diakui bahwa efeknya telah meredam demo kenaikan harga BBM). Akan tetapi, pembicaraan mengenai kenaikan harga BBM ini masih tetap menjamur dalam forum-forum atau diskusi-diskusi dalam masyarakat.

Mari kita lihat dari dua sisi. Rakyat miskin akan sangat menderita melalui kenaikan harga BBM ini karena mungkin mereka akan kesulitan untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. sudah tentu rakyat pasti akan meminta untuk menurunkan kembali harga BBM untuk dapat tetap hidup, dan itulah asal mula munculnya demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Sementara itu, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM demi menjaga APBN agar tidak jebol di mana jika hal itu terjadi, maka kita tidak akan melihat nama Indonesia lagi di peta dunia.


Pemerintah harus memikirkan kepentingan rakyat dan rakyat tidak perlu memikirkan kesulitan pemerintah. Memang itulah kodratnya. Bagi rakyat, terutama rakyat miskin, tidak peduli negara ini hancur, selama mereka bisa makan. Tapi, pemerintah punya ewajiban untuk mempertahankan keutuhan negara ini. Sehingga, perdebatan akan terjadi terus di mana kedua belah pihak akan terus berargumen mempertahankan pendapatnya.

Perdebatan tidak akan selesai. Karena tidak akan ada yang mau mengalah. Semua punya alasan, dan lebih luar biasanya lagi, alasan tersebut logis dan jelas dapat diterima, tetapi tidak bersamaan. Karena itu, gw perkirakan bahwa perdebatan ini akan terus berlangsung tanpa ada akhirnya jika dilanjutkan. Apakah kita mau terus-terusan seperti ini? Gw adalah salah seorang yang mendapatkan imbas dari kenaikan harga BBM ini. Dan gw memutuskan untuk tidak terus terperangkap dalam jebakan perdebatan kenaikan harga BBM ini.

Bagi gw, saatnya untuk melihat ke depan, dan berusaha memikirkan bagaimana melalui semua ini dengan baik, bukannya menyesali apa yang telah terjadi dan berusaha keras mengubahnya. Masih banyak yang harus dipikirkan selain kenaikan harga BBM. Jika kita terlalu preoccupied terhadap kenaikan harga BBM ini, maka kita tidak akan pernah maju dan akan terus berada pada titik ini. Look Forward!

Kemudian, mengenai mahasiswa. Baru saja gw melihat Apa Kabar Indonesia? di TVOne. Di dalamnya sedang dibahas mengenai demonstrasi dan gerakan mahasiswa. Kemudian gw melihat sebuah kenyataan pahit yang benar-benar menusuk-nusuk diri gw.

18% dari mahasiswa yang berdemonstrasi adalah karena mendapat uang.

Itulah yang diutarakan oleh polling yang ada di dalam acara tersebut. Rasanya hati gw tersayat-sayat. Kenyataan ini benar-benar mengerikan. Mahasiswa yang katanya adalah pembawa amanat rakyat, ternyata berdemonstrasi karena uang. 18% memang adalah jumlah yang kecil, tetapi, berarti di antara kita, para mahasiswa yang berdemonstrasi, ada pihak-pihak yang mau saja melakukan hal ini karena uang. Di manakah harga diri kalian? Apa kata orang jika mahasiswa mampu dibeli oleh uang., sementara di masa depan merekalah yang akan memegang tampuk kekuasaan negeri ini. Bagaimana jika nantinya mereka menjadi pemerintah?

Sudah lama gw berpikir bahwa tidak semua mahasiswa yang turun ke jalan adalah pembela kebenaran. Pasti di antara mereka ada orang-orang yang bergerak karena ada yang menggerakkan mereka dari belakang. Kita tidak boleh naif terhadap hal ini. Mereka yang turun ke jalan mungkin adalah pembela kebenaran, tetapi belum tentu apa yang menggerakkan mereka adalah pembela kebenaran. Kita harus lebih kritis dalam menanggapi hal ini.

Sebenarnya gw sudah muak dalam membicarakan hal ini. dan karena itulah sudah sekitar 2 minggu gw tinggalkan pembicaraan mengenai mahasiswa karena gw lelah melihat semua seperti itu. Sebenarnya percuma bagi gw menuliskan hal ini, mengumpat-umpat, mengkritik dan lain sebagainya. Tak akan merubah apa-apa.

Saatnya untuk melakukan tindakan nyata. Jangan cuma menyuarakan kekesalan kita di depan layar televisi di rumah kita saja. Gw akan melakuakn tindakan nyata dalam menyikapi semua ini karena gw lelah dengan semua ini. Hanya saja, gw tidak punya kekuatan yang cukup besar untuk hal tersebut. Karena itu, yang bisa gw lakukan adalah melakukan yang bisa gw lakukan sebaik-baiknya. Look Forward!

It's time for us to look forward. We must not be trapped in the cage of yesterday. Try to do something. The only thing that you can do now is do something that you can do. If you ask me what you can do now, I must answer that only you know what you can do.

Smile Eternally,
Wirapati...

Begin from the Beginning

6-8 Juni 2008, Rapat Kerja Kanopi FEUI 2008...

Ujian Akhir Semester telah berlalu. Tapi bukan berarti ini saatnya untuk bersantai dan menikmati hidup. Cuz, the real part has begun. Perjalanan ini justru baru saja akan dimulai. Dan mungkin... Tak akan berakhir, at least sampai beberapa bulan ke depan.

Selesai menghadapi UAS, masih ada satu tugas yang harus gw lakukan. Yaitu adalah melakukan rapat kerja bersama dengan seluruh anggota pengurus Kanopi FEUI 2008. Dalam rapat inilah gw dan semua orang menentukan program kerja yang akan dijalankan selama kepengurusan yang sangat singkat ini, yaitu sampai Desember.

Sebagai Biro Dana, sudah sepantasnya gw untuk menciptakan program-program yang dapat memberikan keuntungan bagi Kanopi. Akhirnya gw memutuskan untuk mengusung visi Triple-S, yaitu Stable, Strategic, and Services di mana Biro Dana akan menghasilkan dana yang stabil melalui kinerja yang stabil, dan menggunakan metode-metode yang strategis, serta meningkatkan pelayanan terhadap seluruh stakeholders Kanopi, terutama mahasiswa Ilmu Ekonomi.

Dalam proker gw pun gw tambahkan sebuah proyek baru untuk dijalankan dalam waktu 4 bulan. Proyek ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah dalam Grand Design Partnership Proposal yang akan digunakan untuk melaksanakan Strategic Partnership sebagai basis utama kegiatan dari Biro Dana. Gw mengusulkan proyek ini karena pengurus Strategic Partnership sebelumnya yaitu Shirin, mengalami kesulitan dalam menentukan apa yang ingin dijual dari Kanopi kepada perusahaan-perusahaan calon partner. Saat itu gw menyadari bahwa Bargaining Position Kanopi masih sangat lemah. Oleh karena itulah, gw ciptakan proker ini yang sebenarnya sudah lama sekali gw ciptakan dan gw maksudkan untuk tujuan lain (Bukan di Kanopi).

Ternyata pada akhirnya proyek ini ditolak oleh Kanopi. Yah, gw tahu perasaan mereka semua. Pasti agak berat menambahkan proyek baru di tengah2 kondisi seperti ini sementara saat ini Kanopi dirundung kegelisahan akibat IEO dan Economix. Tapi, satu hal saja, gw mengorbankan untuk mengeluarkan ide yang gw simpan selama setengah tahun ini untuk long term goal gw adalah semata-mata demi kebaikan Kanopi. Jadi, janganlah menganggap gw picik saat gw berusaha keras untuk mempertahankan kegiatan ini di raker. Janganlah berpikir bahwa gw melakukan ini semata-mata untuk Biro Dana. Janganlah berpikir bahwa gw melakukan ini untuk diri gw sendiri. Tahukah kalian bahwa gw telah mengorbankan mimpi gw dengan mengajukan proker ini di Kanopi?

Termasuk juga pada saat gw mati-matian mempertahankan Economix. Harus gw akui memang gw adalah orang yang akan maju menjadi PO Economix, oleh karena itu kalian semua boleh berpendapat bahwa mungkin pendapat gw saat raker sangatlah subjektif. Tapi, tidak. Jangan salah. Dua tahun penuh gw berada di FEUI, gw selalu memikirkan Kanopi. Gw selalu memikirkan bagaimana cara membuat Kanopi maju. Kadang gw tidak berkonsentrasi belajar, atau menyetir hanya untuk berpikir tentang Kanopi. Bagaimana caranya membuat Kanopi maju? Sebelum gw berpikir bagaimana membuat FEUI maju.

Jadi, gw mohon, jangan berprasangka buruk pada gw. Gw mencintai Kanopi sedalam-dalamnya. Karena harus diakui bahwa Kanopi telah banyak mengajari gw semenjak pertama kali gw ikut kepanitiaannya. Kecintaan gw pada Kanopi telah membeuat gw mengorbankan keinginan gw untuk berkarir di Senat FEUI (sekarang namanya BEM) dan akhirnya memutuskan untuk tetap bersama Kanopi setidaknya untuk periode ini, yang mungkin akan menjadi periode terakhir gw di Kanopi.

Dengan ditolaknya proyek baru gw, gw dan tim gw harus memulainya kembali dari awal. Mengidentifikasi kembali apa saja yang bisa dijual Kanopi dan juga menciptakan sebuah Grand Design yang luar biasa.

At least I try to begin from the beginning, and I hope, at this beginning, I can see the beginning of a Greater Kanopi.

Smile Eternally,
Wirapati...

Analogi Tas dan Isinya

Selasa, 3 Juni 2008, Lega...

Another Semester has been passed...

Hari ini hari terakhir ujian bagi gw. Memang masih ada ujian bagi bbrp mahasiswa di FEUI. Teman gw, Uli, Widi, Radhi dan Winta adalah contohnya. Mereka masih harus menghadapi ujian Akuntansi Bangs... Ups, salah. Akuntansi Biad... Uh-oh, nyaris salah ngomong. Biaya maksud gw, Ya, mereka masih harus ujian Akuntansi Biaya hari Kamis (Singkatan: Kamis Mengemis) besok.

Huff.. Kalo gw sudah lega sekarang. Semester ini terasa panjang dan pendek bagi gw. Di satu sisi, gw merasa bahwa semester ini terasa panjang saat dijalani, tetapi di sisi lain, semester ini terasa sangaaaaaat pendek saat lw sudah melaluinya. Banyak hal yag terjadi di semester ini. Seperti yang gw pernah katakan dahulu kala, mungkin di blog gw yang lama ato di buku harian gw, "waktu bagi kita untuk melihat ke belakang adalah saat kita tiba di pemberhentian kita". Gw tiba di pemberhentian ke sekian, dan saatnya bagi gw untuk melihat kembali ke belekang, mengevaluasi yang sudah terjadi.

Di semester ini banyak pilihan menghadang gw, Gw dihadapkan dengan kondisi di mana gw harus memilih antara Kanopi dan Senat, yang pada akhirnya gw memilih Kanopi setidaknya untuk tahun ini. Gw merasa ini bukan adverse selection. Di Biro Dana Kanopi, gw bisa berkarya sebebas mungkin untuk mengembangkan imajinasi gw dan kreativitas gw. Di sini pun adalah pertama kalinya gw memimpin sebuah tim dalam organisasi. Whoa! I'm looking forward to my real work in the future.

Di semester ini pula gw mantapkan keinginan gw untuk maju bidding Economix dan membentuk tim terkuat di bawah pimpinan gw. Economix adalah proyek impian gw sejak gw di tahun pertama. Sangat gw nantikan masa2 gw bekerja jika gw menang bidding nantinya, amin. Walaupun banyak rintangan menghadang dalam Economix, gw dan tim gw akan tetap semangat menghadapinya.

Well, dari semua evaluasi yang ada, gw paling mesmerized dengan keputusan gw untuk menciptakan turning point bagi diri gw sendiri di pertengahan semester. Yaitu, adalah meninggalkan ego gw untuk menunda-nunda belajar sampai ujian. Di pertengahan semester, gw membentuk persaudaraan yang bernama Knights of The Round Table yang sejauh ini isinya cuma gw, Happy dan Shamien. Di dalamnya, kami sering melakukan review tentang pelajaran atau mempelajari yang belum dipelajari. Luar biasa sekali. Gw merasa sangat terbantu. Masa-masa ujian yang notabenenya gw selalu begadang, pada saat UAS kemarin gw bisa cukup beristirahat karena sudah cukup menyiapkan diri di sebelumnya.

Gw selalu merasa bahwa belajar dan ujian adalah sama dengan memasukkan isi tas ke dalam tas. Mari kita gambarkan seperti ini. Minggu depan lw akan mendaki gunung tinggi di mana lw butuh persiapan yang baik dalam hal perlengkapan dan perbekalan. Dalam hal ini, lw pny dua pilihan. Pertama, menyiapkannya pada H-1 dan kedua, mempersiapkannya dari sekarang.

Pilihan Pertama:
Lw akan menyiapkannya pada H-1. Pada saat itu, lw ingin menyiapkan seluruh perbekalan dan peralatan secara instant. Lw sediakan apa adanya, jika ada yang kurang lw akan pergi ke toko dan membelinya. Waktu yang lw habiskan untuk menyiapkan peralatan membuat lw kehabisan waktu untuk memasukkan ke dalam tas dan lw cenderung memasukkannya asal agar cepat, sehingga isinya tidak teratur dan membuat lw membutuhkan tas kedua untuk menampung barang-barang lw. Kemudian, lw berangkat dengan kedua tas itu untuk mendaki gunung.

Pilihan kedua:
Lw menyiapkannya dari sekarang. Lw membuat perkiraan barang yang akan dibutuhkan adan membuat daftarnya agar mudah diingat. Lw sempat membuka internet atau sumber informasi lainnya untuk memperoleh informasi mengenai barang bawaan yang baik saat mendaki gunung. Dalam jangka waktu seminggu lw punya banyak waktu untuk mengumpulkan baeang bawan lw dan mencheck-listnya. Saat ada barang yang dirasa kurang, lw dapat langsung ke toko untuk menambahkannya kembali. Kemudian, di H-2 atau H-1 lw tinggal memasukkan barang-barang yang sudah siap dan terklasifikasi secara teratur itu ke dalam tas. Waktu yang banyak menyempatkan lw untuk mengatur kondisi tas. Barang-barang darurat diletakkan di bagian paling atas. Barang-barang pendkung yang mungkin diperlukan belakangan atau sekedar berjaga-jaga diletakkan paling bawah. Kemudian, lw bisa mengaturnya hingga semua masuk ke dalam tas lw dan lw bisa beristirahat setelah tas lw selesai dipersiapkan untuk perjalanan besok.

Jika kita analogikan isi tas sebagai ilmu dan tas sebagai otaknya. Kita bisa melihat bahwa pilihan pertama hanya enak di awal. Mungkin lw merasa santai di awal2, mengistirahatkan diri lw. Kemudian saat H-1, lw baru mengumpulkan informasi mengenai apa saja yang harus lw pelajari. Dan saat lw menyadari pengetahuan lw kurang, lw langsung membuka buku untuk mendapatkan ilmu. Saat waktu sudah hampir habis, lw baru saja selesai membaca semuanya dan secara memaksa, lw berusaha menghapalkan semuanya dalam sekejap.Hasilnya, ada kemungkinan ada ilmu yang tertinggal.

Kemudian, lw akan membebani otak lw dengan bawaan yang tidak teratur sehingga menambah jumlah tas lw yang membebani diri lw dengan mengangkut dua tas, sehingga nantinya akan sulit untuk mencari barang di antara keduanya. Waktu semalaman yang lw habiskan untuk menghapal juga membuat lelah, sehingga layaknya pendaki gunung, lw akan kesulitan untuk mengkonsentrasikan otak lw di perjalanan. Isi otak lw yang tidak terstruktur membuat lw sulit mengeluarkan ingatan yang ada di otak lw sehingga pada saat lw kerjakan soal ujian, lw tak bisa mengingat jawaban yang seharusnya.

Jika pilihan kedua yang lw pilih, lw bersusah-susah dari awal, mengumpulkan informasi mengenai pelajaran apa yang akan diujikan. Kemudian perlahan-lahan membuka buku dan media lainnya untuk menambah pengetahuan lw. Jika ada yang terlupakan, lw tinggal buka buku lagi dan masih ada banyak waktu untuk memahaminya. Saat H-2 atau H-1, lw mempersiapkan untuk menentukan prioritas atas apa yang lw pelajari seperti chapter 14 adalah soal yang pasti keluar, lw akan memfokuskan diri lw untuk menaruhnya di ingatan lw yang paling atas agar mudah digali.

Kemudian, lw masih punya banyak waktu untuk mengatur kembali isi ingatan lw dengan meghapal secara teratur dan terstruktur sehingga tidak membebani otak lw dengan bawaan yang berlebih. Lw bisa selesai belajar jam 9 malam dan beristirahat hingga jam 6 pagi dan bangun dengan tubuh segar sehingga bisa berkonsentrasi saat ujian. Dan pada akhirnya, ingatan lw yang teratur dan terstruktur menyebabkan lw mudah mengingat jawaban sehingga ujian menjadi lancar.

Pilihan pertama membuat lw sulit menanggulangi kondisi yang darurat atau sulit. Lw akan menghabiskan waktu untuk mencari barang yang lw perlukan dan mungkin lw uda mati duluan sebelum lw menemukannya (Baca: Tidak lulus ujian). Pilihan kedua membuat lw siap menghadapi segala kondisi, sehingga bila nantinya pun lw harus mati, lw gak mati menderita, tetapi, lw uda mengurangi risiko lw untuk mati (Baca: Lulus ujian).

Jadi, persiapan ujian dan belajar dapat dianalogikan sebagai persiapan mendaki gunung dan barang bawaannya. Gw sudah merasakannya. Walaupun gw tidak sepenuhnya berada di pilihan 2, gw tetap merasakan efeknya yang cukup baik.

Gw berharap, di semester-semester mendatang, gw mampu sepenuhnya berada di pilihan 2. Sebab, bagi gw, kuliah ini jugalah jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi gw. Jadi, harus gw jalani dengan baik.

Kalian pun bisa mencoba cara itu. Maap kepanjangan. Have a Nice Study!!

Smile Eternally,
Wirapati